Sejak minggu ini, dapat dilihat bahwa pasar minyak belum bisa bernafas lega. Perdagangan minyak pada hari Selasa, 10 Maret 2020 kemarin terus menguat dan dinilai hanya akan berlaku sementara seiring dengan awan gelap yang masih membayangi fundamental minyak.
Data dari Bloomberg hari kemarin mengatakan bahwa hingga pukul 17.02 WIB harga minyak jenis WTI untuk kontr4ak April 2020 di bursa Nymex menguat hingga 7.1% menjadi 33,34 Dolar AS per barel nya. Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Mei 2020 di bursa ICE naik 6,29 persen menjadi US$36,52 per barel. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga minyak telah terkoreksi 44,3 persen.
Analis Pasar Oanda Jeffrey Halley mengatakan bahwa lonjakan harga minyak pada perdagangan kali ini tidak lebih karena koreksi dari aksi jual besar-besaran pada perdagangan hari senin kemarin.
Seperti yang dikutip dari Jeffrey dari Bloomberg pada hari selasa kemarin mengatakan bahwa, padahal secara fundamental prospek pasar minyak tidak ada banyak yang berubah seiring dengan pecahnya kongsi OPEC dan sekutunya pada minggu lalu.
Untuk diketahui, Arab Saudi bakal menaikkan produksi minyaknya 10 juta hingga 12 juta barel per hari sebagai upaya untuk menekan Rusia agar menyetujui langkah pemangkasan produksinya lebih dalam untuk menstabilkan harga.
Ketidaksetujuan Rusia terhadap pemangkasan produksi telah mengakhiri kerja sama antara Arab Saudi dan Negeri Beruang Putih itu yang telah menopang harga minyak sejak 2016. Akibatnya, minyak sempat anjlok hingga 30 persen lebih, menjadi penurunan harian terbesar sejak 1991. Terbaru, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengindikasikan negaranya siap untuk perang harga dengan Arab Saudi. Dia mengatakan industri minyak negaranya memiliki ketahanan keuangan yang cukup untuk tetap kompetitif di setiap tingkat harga dan mempertahankan pangsa pasarnya.
Analis Monex Investindo Futures Andian mengatakan bahwa harga minyak perlu menguji level 37,25 dolar AS per barel, agar emas hitam itu dapat melanjutkan penguatannya.
Saat ini level resisten terdekat minyak berada di posisi 34,65 dolar AS per barel, dan kenaikan lebih lanjut berpeluang menopang minyak naik ke 36,05 Dolar AS per barel, sebelum ke 37,25 dolar AS per barel.
https://youtu.be/Bs_srHxcO5A
“Bila gagal menembus level resisten 34,65 dolar AS per barel, harga minyak berpotensi kembali bergerak turun menguji level support di 31,15 dolar AS, penurunan lebih dalam dari level support tersebut berpeluang menekan harga minyak menguji level support selanjutnya di 29,85 dolar AS dan 28,5 dolar AS per barel,” seperti kata Andian dalam publikasi risetnya selasa kemarin.
FUNDAMENTAL BURUK
Terlepas dari perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia, fundamental permintaan minyak pun juga menjadi katalis negatif harga untuk bergerak naik. Apalagi, mengingat penyebaran virus corona telah melambatkan permintaan minyak hampir di seluruh dunia.
International Energy Agency (IEA) memprediksi permintaan minyak global pada tahun ini menurun untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan 2009 dan seiring dengan semakin kuatnya sinyal perlambatan ekonomi global.
Dalam laporannya yang teranyar, IEA merevisi perkiraan permintaan minyak global dari sekitar 800.000 barel per hari, turun sebesar 90.000 barel per hari menjadi 710.000 barel per hari.




