Harga minyak mentah kontrak menguat pada perdagangan hari ini setelah kemarin ditutup dengan kondisi harga yang melemah. Namun kenaikan harga minyak ini belum mencerminkan perbaikan dari sisi fundamentalnya.
Harga minyak kini sudah berada di bawah level US$ 30/barel. Dan ini sudah mengkhawatirkan. Namun mau bagaimana lagi, outlook sektor perminyakan masih suram lantaran merebaknya wabah virus corona dan perang harga antara Arab Saudi dengan Rusia.
Wabah virus corona kini telah merebak ke 152 negara. Nyaris 200 ribu orang terinfeksi virus ini. Angka tingkat kematian sementaranya juga naik menjadi 4% padahal sebelumnya hanya di kisaran 3%.
https://youtu.be/3dvPaLMg_Ps
Dalam dua hari terakhir pertambahan jumlah kasus per harinya lebih dari 10.000 kasus. Kini total kasus di luar China sudah mencapai lebih dari 100 ribu. Ini yang jadi penyebab harga minyak makin anjlok kemarin.
Dengan semakin merebaknya wabah ini, permintaan minyak bisa jatuh. Indikatornya sudah terlihat. Biro Perdagangan Jepang mengumumkan, impor minyak mentah Negeri tersebut pada bulan Februari 2020 anjlok 9% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Menambah beban harga minyak, ada perang harga antara Arab Saudi dan Rusia. Hubungan keduanya diwarnai ketegangan setelah Rusia menolak usulan Arab untuk memangkas produksi minyak lebih dalam demi menstabilkan pasar.
Penolakan tersebut membuat OPEC+ gagal capai kata sepakat dan kongsi yang sudah dibentuk tiga tahun tersebut sekarang menghadapi masalah yang kompleks akibat berbeda pendapat.
Arab Saudi yang geram lantas langsung mengambil manuver dengan berencana meningkatkan produksi minyaknya pada April nanti serta mendiskon harga minyak ekspornya sebesar 10%.
Sudah permintaan merosot, pasar malah dibanjiri dengan pasokan. Ini yang membuat harga minyak anjlok. Arab Saudi bisa saja masih untung dengan harga minyak yang sudah di bawah US$ 30 barel karena ongkos produksinya yang murah. Namun tidak dengan negara OPEC lain dan Rusia yang ongkos produksinya lebih mahal.
Fitch dalam sebuah catatan menjelaskan bahwa permintaan minyak kemungkinan akan mulai pulih pada semester II tahun kala dampak COVID-19 mulai pudar dan ekonomi kembali bergeliat.
Namun anjloknya harga minyak dan penyebaran virus telah membuat risiko resesi global meningkat. Hal ini membuat Fitch merevisi turun harga minyak dari yang sebelumnya diramal di rata-rata US$ 62/barel menjadi US$ 43/barel pada 2020.
sumber : cnbcindonesia.com




