Pada akhir perdagangan pasar valuta asing hari Selasa waktu setempat (Rabu WIB), kurs dolar Amerika Serikat (USD) jatuh terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, sedangkan mata uang berisiko termasuk Dolar Australia menguat, karena selera risiko meningkat dengan harapan bahwa penguncian dapat memperlambat penyebaran virus korona di beberapa negara.
Mengutip Sumber, Rabu, 8 April 2020, Poundsterling juga naik sehari setelah Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dipindahkan ke perawatan intensif karena memburuknya gejala virus korona.
Analis mengatakan bahwa mata uang Inggris diuntungkan dari meningkatnya selera risiko yang membebani Dolar AS. Kondisi Borish Johnson, meskipun mengkhawatirkan, juga tidak mungkin berarti perubahan arah kebijakan pemerintah dalam memerangi virus.
“Terlepas dari berita sedih tentang Perdana Menteri Inggris Borish Johnson, kematian di Inggris juga tetap relatif rendah dan melambat untuk hari kedua, meskipun puncaknya masih diperkirakan sekitar 10 hari lagi,” ujar Kepala Strategi Mata Uang Global di Brown Brothers Harriman, Win Thin di New York.
“Data frekuensi tinggi pada infeksi virus korona dan tingkat kematian terus stabil,” ujar Thin.
Di Spanyol dan Italia, yang menyumbang lebih dari 40 persen dari kematian dunia akibat virus corona, angka kematian telah menurun selama beberapa hari, dan diskusi publik telah beralih ke bagaimana dan kapan pembatasan-pembatasan drastis dalam aktivitas pribadi dan ekonomi selama berminggu-minggu akan dikurangi.
Negara bagian New York, episentrum virus korona AS, mendekati angka tertinggi dalam jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit, Gubernur Andrew Cuomo mengatakan, sebuah tanda harapan sekalipun kematian di negara bagiannya dan negara tetangga New Jersey mencapai tertinggi dalam satu hari.
https://www.youtube.com/watch?v=x1yKvVX_XEg
Indeks Dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, terakhir melemah sekitar 0,81 persen menjadi 99,92. Dolar Australia melonjak 1,54 persen menjadi 0,6180 dolar AS, Poundsterling menguat 0,93 persen menjadi 1,2343 Dolar dan Euro menguat 0,98 persen menjadi 1,0897 Dolar. Dolar juga melemah sekitar 0,40 persen terhadap Yen di 108,76 yen.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyatakan bahwa keadaan darurat untuk memerangi infeksi virus korona di pusat-pusat populasi utama dan meluncurkan paket stimulus hampir sebesar USD1 triliun untuk melunakkan pukulan terhadap ekonomi.
Tindakan oleh bank sentral untuk mempermudah perebutan Dolar yang terlihat dalam beberapa pekan terakhir juga telah membantu membawa ketenangan ke pasar.
“Kami mengalami penurunan volatilitas yang bagus di seluruh pasar valuta asing dan ekuitas. Kami tahu bank-bank sentral telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam mengurangi ketegangan di pasar Dolar dan itu berlanjut,” ujar Ahli Strategi Valas Societe Generale Kenneth Broux.
Sumber : Medcom.id







