
Kekhawatiran atas kenaikan lebih lanjut terhadap konflik perdagangan antara Amerika Serikat dengan China menjaga indeks Dolar Amerika Serikat tetap stabil pada perdagangan pasar valuta asing siang ini, Rabu, 29 Mei 2019 setelah aksi perburuan aset-aset safe haven ikut mendongkraknya semalam.
Berdasarkan data dari Bloomberg, pergerakan indeks Dolar Amerika Serikat yang mengukur kekuatan greenback Dolar Amerika Serikat terhadap sejumlah mata uang utama di dunia, menurun 0,035 poin atau 0,04 persen ke kisaran level 97,917 pada pukul 10.54 WIB dari level penutupan sebelumnya.
Pada perdagangan hari Selasa, 28 Mei 2019 indeks Dolar Amerika Serikat berakhir menguat 0,35 persen atau 0,339 poin di kisaran level 97,952.
Dalam sebuah laporan pada hari Selasa, 28 Mei 2019 Departemen Keuangan Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pihaknya mengawasi kebijakan-kebijakan 21 mitra dagang utama Amerika Serikat dan menemukan sembilan negara yang memerlukan perhatian penuh karena praktik mata uang.
Kesembilan negara tersebut yakni China, Jerman, Irlandia, Italia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia , Singapura, dan Vietnam.
“Laporan tersebut berdampak pada sentimen risiko. Investor dan para pelaku pasar kini sedang mengamati bagaimana Amerika Serikat dan China akan mengatasi konflik perdagangan mereka menjelang pertemuan G20 di Jepang pada bulan depan,” ujar Shusuke Yamada selaku currency and equity strategist di Bank of America Merrill Lynch, dikutip dari Reuters.
Menambah kecemasan terkait hal tersebut, surat kabar Partai Komunis China memperingatkan Amerika Serikat (AS) pada hari Rabu, 29 Meni 2019 bahwa China siap memanfaatkan dominasinya atas logam tanah jarang untuk menyerang balik dalam perang perdagangan.
Menurut Wikipedia, logam tanah jarang atau unsur tanah jarang adalah kumpulan 17 unsur kimia pada tabel periodik, terutama 15 lantanida ditambah skandium dan yttrium. Skandium dan yttrium dianggap sebagai logam tanah jarang karena sering ditemukan pada deposit-deposit bijih lantanida dan memiliki karakteristik kimia yang mirip dengan lantanida.
Kunjungan Presiden China, Xi Jinping ke tambang logam tanah jarang tersebut pada minggu lalu memicu spekulasi bahwa China akan menggunakan posisi dominannya tersebut sebagai pemasok logam tanah jarang sebagai benteng dalam perang perdagangan.
Meskipun China sejauh ini tidak secara eksplisit mengatakan akan membatasi ekspor logam tanah jarang ke Amerika Serikat, People’s Daily secara kuat mengindikasikan jika hal ini akan terjadi, termasuk pernyataan dari editor surat kabar berpengaruh Global Times di Twitter pada hari Selasa malam.
Dalam tajuk berjudul “Amerika Serikat, jangan meremehkan kemampuan China untuk menyerang balik”, People’s Daily mencatat ketergantungan Amerika Serikat terhadap logam tanah jarang yang dimiliki oleh China.
“Kami menyarankan pihak Amerika Serikat untuk tidak menyepelekan kemampuan pihak China dalam melindungi hak dan kepentingan pengembangannya. Jangan katakan bahwa kami tidak memperingatkan Anda!”
Ungkapan “jangan katakan kami tidak memperingatkan Anda” umumnya hanya digunakan oleh media resmi China untuk memperingatkan saingannya atas daerah-daerah perselisihan utama, misalnya dalam perselisihan perbatasan dengan India pada tahun 2017 dan sebelum China menyerbu Vietnam pada tahun 1978.
Disisi lain, nilai tukar Yen Jepang (JPY) yang bersifat sebagai aset safe haven di tengah kekhawatiran global pun melanjutkan penguatan 0,06 poin atau 0,05 persen ke kisaran level 109,32 Yen per Dolar Amerika Serikat, setelah ditutup menguat 0,14 poin atau 0,13 persen di kisaran level 109,38 pada Selasa, 28 Mei 2019.
didimaxforex.com








