
Pada perdagangan pasar valuta asing di hari Senin, 17 Juni 2019 Dolar Amerika Serikat (USD) mengudara di dekat tertinggi selama dua minggu terakhir. Hal ini dikarenakan data penjualan ritel Amerika Serikat yang kuat membuat beberapa kecemasan tentang penurunan tajam di ekonomi terbesar di dunia itu.
Hal tersebut memberikan beberapa bantuan untuk Dolar Amerika Serikat (USD) jelang pertemuan kebijakan Federal Reserve (The Fed) minggu ini. Sementara itu, beberapa para pelaku pasar mengharapkan bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada tinjauan kebijakan pada hari Rabu mendatang, pedagang bertaruh bahwa pembuat kebijakan akan melakukan hal itu dalam beberapa bulan mendatang.
Indeks Dolar Amerika Serikat versus sekeranjang enam mata uang mayor sedikit berubah di kisaran level 97,559 setelah naik ke kisaran level 97,583 pada hari Jumat lalu, tertinggi sejak tanggal 3 Juni.
Indeks Dolar AS telah menurun ke level terendah 2,5 bulan di kisaran level 96,459, sedikit menurun dari seminggu yang lalu setelah laporan pekerjaan Amerika Serikat yang lemah, meningkatkan prospek penurunan suku bunga The Fed.
Ekspektasi penurunan suku bunga pada pertemuan The Fed tanggal 18-19 Juni mendatang turun dari 28,3% pada hari Kamis menjadi 21,7% menurut alat FedWatch CME Group. Namun taruhan pelonggaran pada pertemuan di bulan Juli tetap tinggi, yakni di angka 85%.
“Selain Data Amerika Serikat yang optimis, Dolar Amerika Serikat (USD) juga didukung oleh melemahnya mata uang lainnya, terutama euro dan antipodean,” ujar Junichi Ishikawa selaku ahli strategi senior FX di IG Securities di Tokyo.
“The Fed mungkin akan memotong suku bunga, baik cepat atau lambat tetapi mungkin juga rekan-rekan antipodean serta Bank Sentral Eropa (BoE), dan justru pandangan seperti itu membuat Dolar Amerika Serikat (USD) menguntungkan.”
Dengan pertumbuhan yang melambat dan inflasi yang berada jauh di bawah targetnya, Bank Central Eropa (ECB) baru-baru ini meningkatkan prospek katalis yang lebih besar, dengan alasan bahwa penurunan suku bunga atau bahkan pembelian aset lebih mungkin dibutuhkan.
Bank-bank sentral Australia dan Selandia Baru juga harus menghadapi kesulitan yang sama seperti ekonomi global yang bersiap untuk kejatuhan dari konflik perdagangan antara Amerika Serikat dengan China.
Imbal hasil obligasi Australia terperosok ke level terendah pada pekan lalu karena investor menilai bahwa pelonggaran lebih lanjut yang dilakukan oleh Reserve Bank of Australia (RBA) yang sudah memotong suku bunga ke level terendah di angka 1,25% awal bulan ini.
Euro (EUR) sedikit berubah di kisaran level $ 1,1216 setelah melemah sekitar 0,6% pada hari Jumat lalu, ketika jatuh ke palung delapan hari dari kisaran level $ 1,1203.
Dolar Australia (AUD) merangkak naik sebesar 0,1% menjadi $ 0,6878 tetapi tetap dalam jangkauan terendah selama lima bulan terakhir, dari $ 0,6862 yang ditetapkan pada hari Jumat lalu, ketika mata uang mundur hampir sebesar 0,7%.
Dolar Selandia Baru (NZD) yang melemah lebih dari 1% selama sesi sebelumnya, diperdagangkan mendekati level terendah tiga minggu yakni di kisaran level $ 0,6488, menyentuh level terendah akhir pekan lalu. Dolar Amerika Serikat (USD) datar di 108,570 Yen Jepang (JPY) setelah naik sebesar 0,15% pada hari Jumat lalu.
didimaxforex.com






