Harga Minyak Mengilap Ditopang Data Pasokan dan Konsumsi

Harga minyak mentah dunia meningkat pada perdagangan Kamis (13/8). Kenaikan harga minyak ditopang penurunan pasokan di tengah harapan peningkatan konsumsi energi di Amerika Serikat.
Dilansir dari Antara, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober meningkat 93 sen atau 2,1 persen menjadi US$45,43 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September naik US$1,06 atau 2,6 persen menjadi US$42,67 per barel di New York Mercantile Exchange.

Badan Informasi Energi (Energy Information Administration/EIA) mencatat konsumsi bahan bakar di Negeri Paman Sam naik menjadi 19,37 juta barel per hari pada pekan lalu, tertinggi sejak Maret. Hal ini diperkirakan memberi dukungan bagi peningkatan harga minyak.

“Kami melihat permintaan bangkit kembali. Pasar semakin ketat. Lebih cepat dari yang diperkirakan orang,” kata Analis Senior di Price Futures Group Phil Flynn.

Sementara, persediaan minyak mentah turun 4,5 juta barel atau lebih tinggi dari ekspektasi para analis sekitar 2,9 juta barel. Begitu juga dengan produksi minyak turun dari 11 juta menjadi 10,7 juta barel per hari.

“Statistik yang paling mengejutkan adalah penurunan produksi minyak sebesar 300 ribu barel per hari pada saat yang sama ketika kami mendengar para produsen berbicara tentang pemulihan produksi. Itu akan memberi lebih banyak dukungan pada harga minyak mentah untuk keseimbangan tahun ini,” ujar Analis sekaligus Presiden Lipow Oil Associates di Houston Andrew Lipow.

Lebih lanjut, produksi minyak mentah AS diperkirakan turun 990 ribu menjadi 11,26 juta barel per hari. Proyeksi ini kembali turun dari perkiraan sebelumnya sekitar 600 ribu barel per hari.

BISNIS TEPAT SAAT PANDEMI VIRUS CORONA

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) memperkirakan produksi minyak mentah dunia akan turun 9,06 juta barel per hari pada tahun ini. Jumlahnya lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sekitar 8,95 juta barel per hari.

Kendati begitu, prospek harga minyak ke depan masih bisa berubah karena ketidakpastian terkait pemberian stimulus fiskal tambahan dari pemerintah AS untuk mendukung pemulihan ekonomi dari tekanan di tengah pandemi virus corona atau covid-19.

Di sisi lain, data Petroleum Planning and Analysis Cell (PPAC) justru mencatat konsumsi bahan bakar olahan di India turun 3,5 persen secara bulanan dan 11,7 persen secara tahunan menjadi 15,68 juta ton pada Juli 2020.

Free edukasi dan bimbingan trading forex, klik gambar di bawah untuk daftar :

Informasi lebih lanjut hubungi kami via whatsapp :

Didimax Change Your Live!

Sumber : CNNIndonesia

(Visited 11 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *