
Pada perdagangan pasar valuta asing hari Rabu, 27 November 2019 pagi, nilai tukar Yen (JPY) kembali melemah melawan Dolar Amerika Serikat (USD). Hingga hari ini, mata uang negeri sakura ini sudah melemah dalam 6 hari secara berturut-turut.
Pada pukul 10:50 WIB, Yen (JPY) melemah sebesar 0,07% ke kisaran level harga 109,11/US$ di pasar spot, melansir data Refinitiv.
Harapan akan adanya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dengan China membuat sentimen para pelaku pasar membaik dan membuat daya tarik Yen (JPY) sebagai aset aman (safe haven) berkurang.
Membaiknya sentimen para pelaku pasar tercermin dari pergerakan bursa saham. Bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan hari Selasa kemarin, dan sebagian besar bursa saham Asia juga menghijau pada pagi ini.
Selasa kemarin, salah satu sumber mengabarkan bahwa Wakil Perdana Menteri China, Liu He, pagi ini berbicara dengan Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Robert Lighthizer dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin.
Menurut sumber “Kedua belah pihak membahas penyelesaian masalah-masalah inti yang menjadi perhatian bersama, mencapai konsensus bagaimana masalah tersebut akan diselesaikan dan setuju untuk terus berunding mengenai isu-isu untuk kesepakatan fase satu” tulis rilis Kementerian Perdagangan China
Setelah kabar tersebut muncul, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberikan pernyataan bahwa Washington berada di “pembahasan terakhir” kesepakatan dengan China yang akan menghentikan perang dagang yang sudah berlangsung selama 16 bulan lamanya.
https://www.youtube.com/watch?v=BprUXto0meY
“Melihat pernyataan dari Donald Trump, kesepakatan dagang sepertinya masih harus menunggu setidaknya sampai akhir pekan” ujar Kyosuke Suzuki, direktur forex di Societe Generale Tokyo, sebagaimana dilansir dari sumber.
“Saya pikir pasar bertaruh bahwa kedua belah pihak akan terus berkompromi untuk perundingan tarif masuk. Jika hal tersebut terjadi, kita akan melihat aksi buy-on-rumour-sell-on-fact pada pasangan mata uang USD/JPY” tambahnya.
Pernyataan terakhir dari Kyosuke Suzuki mengindikasikan, jika perudingan dagang belum akan mencapai kesepakatan dalam waktu dekat, sehingga nilai tukar Yen (JPY) bisa berbalik menguat melawan Dolar Amerika Serikat.
Sampai saat ini Presiden Amerika Serikat, Donald Trump masih belum membatalkan rencana terkait kenaikan tarif masuk importasi dari China pada tanggal 15 Desember mendatang. Jika sampai tanggal tersebut kedua negara belum meneken kesepakatan, itu berarti perang dagang berisiko kembali memanas.





