Kurs USD (United States Dollar) melonjak karena perusahaan dan investor mencari mata uang paling likuid di tengah kekhawatiran tentang penutupan ekonomi imbas penyebaran virus corona.
MENGUATNYA DOLLAR AMERIKA
USD (United States Dollar) kursnya menguat terhadap beberapa mata uang utama. Kenaikan ini menyentuh level tertinggi multi-tahun, karena perusahaan dan investor bergegas mengalihkan investasi ke yang dirasa aman di tengah maraknya COVID19 (virus corona), salah satunya mata uang AS.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan “greenback” (USD) terhadap enam mata uang utama lainnya naik sekitar 1,69% menjadi 101,08 dalam kata lain tertinggi dalam tiga tahun terakhir sejak April 2017. Adapun mata uang yang mencapai posisi terendah seperti pound Inggris (sterling), dolar Selandia Baru (NZD), dan dolar Australia (AUD)
MATA UANG DENGAN POSISI TERENDAH
Mata uang tersebut disebabkan karena ekspor di negaranya sangat buruk. Contohnya, AUD (Australian Dollar) merosot ke level terendah USD0,5702 pada hari Rabu, sementara NZD (New Zealand Dollar) sentuh level terendah dalam 11 tahun terakhir pada USD0,5697 sen.
Sterling pun turun 3,73% menjadi USD1,16 atau level terendah sejak pound disebut ‘flash crash’ pada Oktober 2016. Bahkan mata uang safe-haven (aset yang menjadi pilihan ketika terjadi resiko) lain yang dirasa dipersepsikan berjuang melawan greenback (sebutan untuk USD), seperti yen Jepang turun 0,4% dan franc Swiss (CHF) turun sekitar 0,8%.
CAD (Dolar Kanada) juga melemah ke level terendah terhadap greenback pada hari Rabu karena harga minyak jatuh. Pelemahan mata uang tersebut menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran ada di mana-mana ketika bank sentral global melanjutkan upaya untuk menjaga pasar uang berfungsi normal.
KEPUTUSAN THE FED
“Dalam nada yang sama dengan konsumen mengosongkan rak di toko-toko kelontong, investor dan perusahaan memperlakukan greenback dengan cara yang sama, melahapnya dengan status sangat likuid,” kata Analis Pasar Senior Western Union Business Solutions Joe Manimbo, dilansir dari Reuters, Kamis (19/3/2020).
Dolar telah melonjak terhadap mata uang utama lainnya dalam beberapa hari terakhir ditopang dua penurunan suku bunga darurat oleh Federal Reserve AS. Indeks dolar naik lebih dari 6% selama tujuh sesi perdagangan terakhir. Bank Sentral Eropa, Bank Inggris dan Bank Nasional Swiss semuanya mengadakan penjualan likuiditas dolar pada hari Rabu, sebagai bagian dari suntikan dana terkoordinasi terbesar oleh bank sentral sejak krisis keuangan 2007-2009.
Tingginya permintaan dalam lelang ini membuat beberapa orang gelisah di pasar uang, tetapi beberapa analis mengatakan bahwa karena sifat kekurangan dolar yang meluas, jalur pertukaran The Fed dengan bank sentral utama mungkin tidak cukup.
USD menguat usai Federal Reserve AS memutuskan akan mengembalikan fasilitas pendanaan yang digunakan selama krisis keuangan 2008 untuk membuat kredit berdampak langsung ke bisnis dan rumah tangga. Selain itu, menguatnya dolar AS karena Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk mengirim uang ke Amerika segera untuk mengurangi guncangan ekonomi dari krisis COVID19. The Fed mengatakan pada hari Selasa akan mengembalikan fasilitas pendanaan yang digunakan selama krisis keuangan 2008 untuk mendapatkan kredit langsung ke bisnis dan rumah tangga.







