Mata uang terkait komoditas turun terhadap safe haven dolar dan yen beranjak naik pada Senin (13/04). Pelemahan mata uang negara eksportir minyak seperti dolar Kanada, krona Norwegia dan peso Meksiko ini terjadi pasca tercapainya kesepakatan rekor penurunan produksi yang disepakati oleh OPEC dan negara-negara penghasil minyak lainnya gagal menekan kekhawatiran luas terkait anjloknya permintaan global.
Diberitakan Reuters Senin (13/04) greenback menguat terhadap mata uang Australia dan Selandia Baru, yang dipandang sebagai barometer sentimen risiko, dengan investor tetap khawatir mengenai permintaan global atas komoditas minyak itu.
Pasar keuangan masih khawatir terhadap penyebaran pandemi covid-19 akibat tindakan karantina wilayah membatasi pergerakan orang-orang di seluruh dunia hingga menyeret perekonomian global ke dalam jurang resesi yang dalam.
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi global sedikit membaik pada tahun ini dibandingkan 2019, yang kinerjanya melemah. Ekonomi dunia diprediksi tumbuh 2,5 persen, naik tipis dari tahun lalu sebesar 2,4 persen.
Wabah ini telah menyebabkan lembaga-lembaga besar dan bank-bank memangkas perkiraan tentang kondisi ekonomi global. Salah satu yang terbaru untuk melakukannya adalah Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi.
Dalam laporan bulan Maret, OECD menurunkan perkiraan pertumbuhan untuk hampir semua negara di tahun ini.
Dalam laporannya, pertumbuhan produk domestik bruto China yang memiliki penurunan peringkat terbesar. Raksasa ekonomi Asia ini diperkirakan hanya tumbuh 4,9 persen tahun ini, lebih lambat dari perkiraan sebelumnya 5,7 persen.
Sementara itu, ekonomi global diperkirakan akan tumbuh 2,4 persen pada tahun 2020 – turun dari proyeksi 2,9 persen sebelumnya.
Melansir laman BBC, Kamis (9/1/2020), pertumbuhan seiring pulihnya perekonomian yang diharapkan terjadi pada beberapa negara berkembang yang mengalami kesulitan di 2019.
Namun, kondisi ini masih dibayangi pertumbuhan yang melambat di Amerika serikat dan beberapa negara berkembang lainnya.
Pertumbuhan ekonomi pada 2019, merupakan yang paling lambat sejak terjadinya krisis keuangan. Prediksi angka moderat pada tahun ini masih karena ketidakpastian global.
Perubahan masih tergantung pada perbaikan di beberapa negara berkembang. Seperti ekonomi India, diprediksi pulih usai melambat dibandingkan tahun lalu. Ekonomi Brazil juga diprediksi tumbuh lebih kuat.
Pertumbuhan ekonomi di Meksiko dan Turki juga diprediksi membaik usai mencatatkan pertumbuhan di 2019. Ekonomi Argentina akan terus berkontraksi lebih lambat daripada dalam dua tahun terakhir.
Perkiraan Bank Dunia juga menyebutkan jika kegiatan ekonomi di Iran akan menurun tahun ini. Pertumbuhan baru terjadi pada tahun 2021. Kalaupun prediksi itu tidak terjadi, maka ekonomi Iran bisa membaik. Namun ketegangan politik dan kekerasan yang telah meletus dalam beberapa hari terakhir ini dapat dengan mudah merusaknya.
Bank Dunia memperingatkan risiko terhadap kondisi ini. Iran menjadi pengingat jika konflik di Timur Tengah berbahaya karena selalu memberikan konsekuensi ekonomi. Perlu diketahui jika laporan Bank Dunia ditulis sebelum peristiwa konflik Iran dan AS terjadi.
Sumber:investing.com
Profit Konsisten Didimax






