Dolar AS yang biasa berfungsi sebagai safe-haven, pada perdagangan Senin (Selasa WIB) menguat terhadap mata uang utama lainnya, bahkan ketika para investor mencatatkan resiko pada portofolionya, membeli saham AS dan menjual obligasi Pemerintah.
Para investor memiliki ekspektasi beragam terhadap resiko yang akan terjadi, dengan peringatan akan adanya gelombang kedua infeksi Covid-19 karena banyaknya negara yang mengurangi lockdown.
Jerman melporkan pada Senin (11/5/2020) bahwa pihaknya mampu mengakhiri banyak keadaan darurat diberbagai daerahnya minggu ini, dan Selandia Baru mereka dapat mengurangi pembatasan atau lockdown pada hari Kamis (14/5/2020).Selain kedua Negara tersebut, ternyata Inggris juga telah menetapkan rencana pelonggaran lockdown, sementara toko-toko di Prancis dibuka kembali pada hari Senin (11/5/2020).
“Kekhawatiran pasar akan pembukaan kembali ekonomi terlalu cepat mengakibatkan gelombang virus lainnya akan terus membuat investor berhati-hati” tulis analis Action Economics.
Namun demikian, “Ini bukan lingkungan risk-off (penghindaran risiko) klasik” kata Axel Merk,Presiden dan Kepala investasi di Merk Investments.
Disatu sisi, Merk juga mencatat bahwa ada bukti langkah risk-off.Indeks dolar yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang utama lainnya, menguat 0,37 persen menjadi 100,16. Franc Swiss, tempat berlindung yang aman, naik terhadap EURO ke level tertinggi lebih dari dua minggu ini.
Sementara itu Yen Jepang taruhan safe-heaven klasik, secara luas lebih melemah. YEN Jepang terakhir melemah 0,93 persen di 107,62 terhadap Dolar dan juga 0,69 persen lebih lemah terhadap EURO, di 116,38. Harga obligasi pemerintah AS, yang juga merupakan aset berkualitas tinggi yang mendapat manfaat pada saat kritis, turun dan imbal hasilnya naik karena permintaan turun.
Saham-saham AS juga diuntungkan pada hari Senin (11/5/2020) dari sentimen resiko yang membaik, meskipun beberapa dari pergerakan itu telah mundur kembali dengan indeks S&P 500 datar.
EURO jatuh terhadap dolar dan terakhir melemah sekitar 0,26 persen pada 1,081 dolar.
Dolar minggu ini akan mengambil isyarat dari pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada Rabu (13/5/2020) dan data inflasi, pengangguran serta belanja ritel, manurut Joe Manimbo analis pasar senior di Western Union Business Solutions.
Sumber : antaranews.com







