HUBUNGAN AS-CHINA KEMBALI TEGANG. Pemicunya terjadi pada saat Donald Trump memblokir pengiriman semikonduktor dari pembuat chip global ke Huawei pada Jumat lalu dan kian memicu naiknya ketegangan hubungan dua negara adidaya ini.
TEGANG DITENGAH CORONA
Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) benar-benar luar biasa. Virus ini membuat hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat (AS) dan China, memburuk.
Departemen Perdagangan AS menyatakan sudah merevisi aturan ekspor guna mengekang gerak bisnis Huawei sehingga pabrikan ponsel asal Shenzhen itu tak bisa mengakses produk-produk semikonduktor yang merupakan produk dari perangkat lunak (software) dan teknologi dari AS.
Pengumuman ini mencega
h upaya Huawei [mencari celah] untuk melemahkan kontrol ekspor AS.
Mei tahun lalu, pemerintah Trump memang sudah melarang ekspor teknologi AS ke Huawei, tetapi raksasa teknologi China itu masih dapat membeli semikonduktor yang dibuat di luar AS dengan perangkat lunak dan peralatan AS. Departemen Perdagangan mengatakan revisi aturan baru ini memang dirancang untuk mengatasi celah itu.
Namun tampaknya aksi balasan dari China tinggal menunggu realisasi. Dalam sebuah cuitan di Twitter, seorang pemimpin redaksi sebuah surat kabar China yang dikendalikan negara, Global Times, mengatakan Beijing bisa saja mengambil tindakan balasan.
Komentar sang pemred tentang masalah perdagangan AS-China menurut Washington Post sering menjadi indikator yang dapat diandalkan untuk melihat apa yang akan dilakukan Beijing ke depan.
Jika AS lebih lanjut memblokir pasokan teknologi utama ke Huawei, China akan mengaktifkan ‘daftar entitas yang tidak dapat diandalkan’, membatasi atau menginvestigasi perusahaan-perusahaan AS seperti Qualcomm, Cisco dan Apple, dan menunda pembelian pesawat Boeing.
Peter Navarro, seorang penasihat senior Gedung Putih, dan hawk Tiongkok mengklaim bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia mengirim orang yang terinfeksi untuk menyebarkan penyakit. Batas Amerika untuk Huawei juga campur aduk. Hu Xijin, editor nasionalistik Global Times, mentweet bahwa Tiongkok harus meningkatkan kapasitas nuklirnya di tengah ancaman dari AS.
EMAS MELONJAK
Hari pertama awal pekan ini, logam mulia emas langsung membuat kejutan. Seiring dengan berlanjutnya perseteruan antara Washington dengan Beijing, harga emas dunia melesat dan menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu 8 tahun terakhir.
Berkembangnya konflik antara Amerika Serikat dan China memang jadi latar belakang yang positif dan mendorong harga emas untuk naik lebih tinggi. Trump yang gusar karena ekonomi AS luluh lantak akibat wabah corona (Covid-19) terus menyalahkan China atas kegagalannya dalam menghentikan wabah.
Hubungan keduanya sempat ‘hampir’ akur di awal tahun, kini kembali retak. Donald Trump sekarang tak lagi tertarik untuk membahas soal kesepakatan dagang antara kedua belah pihak walau sampai saat ini Washington dan Beijing masih terus berupaya untuk melakukan negosiasi.
Perseteruan keduanya yang terus berlanjut membuat risiko ketidakpastian global menjadi meningkat. Belum juga pandemi Covid-19 yang membuat ekonomi global jatuh tersungkur usai, kini drama konflik bilateral AS-China kembali disuguhkan.
Emas sebagai aset minim risiko (safe haven) justru mendapat berkah dari ketidakpastian ini. Emas menjadi banyak dilirik oleh investor kala kondisi ekonomi sedang tidak kondusif. Aksi perburuan ini membuat harga emas naik, bahkan terbang seperti sekarang.
sumber :cnbcindonesia







