Pelaku pasar mengekspektasikan European Central Bank (ECB) akan memangkas suku bunga acuan pada Kamis (12/3). Dampaknya, mata uang euro cenderung bergerak melemah terhadap dollar AS. Mengutip Bloomberg, pergerakan EUR/USD melemah 0,84% ke level 1,1354.
Euro cenderung melemah karena pelaku pasar mengekspektasikan European Central Bank (ECB) akan memangkas suku bunga acuannya di Kamis mendatang.
“Pergerakan euro akan cenderung menurun sampai ada kepastian suku bunga European Central Bank(ECB) karena saat ini pelaku pasar mendukung adanya pelonggaran suku bunga,”
Di satu sisi, pasca Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato bahwa akan mengupayakan adanya pemangkasan pajak biaya buruh, dollar Amerika Serikat jadi bergerak menguat dan semakin menekan euro.
Rabu (11/3), Amerika Serikat akan merilis data Consumer Price Index (CPI) atawa inflasi. Konsensus memproyeksikan inflasi Amerika Serikat akan menurun dari 0,1% ke 0,0% untuk periode Februari. Meski inflasi Amerika Serikat diproyeksikan turun, di proyeksikan dollar AS besok berpotensi masih menguat bila isu janji Trump menurunkan pajak masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Di sisi lain, meskipun rilis data inflasi Zona Euro tumbuh sesuai ekspektasi namun belum cukup kuat untuk menopang penguatan EUR. Apalagi, kurs Benua Biru tersebut terikat kuat dengan sentimen bearish menyangkut arah kebijakan ECB serta menjelang pertemuan ECB pekan ini.
https://www.youtube.com/watch?v=PWTguxpeGrs
Ditambah lagi, Eurostat melaporkan inflasi konsumen inti tumbuh stabil pada Desember 2019. Data tersebut selaras dengan estimasi awal dan pencapaian pada periode sebelumnya. Pertumbuhan inflasi bulanan pun cukup memuaskan. Sayangnya, data inflasi justru dirilis sehari setelah munculnya notulen rapat kebijakan ECB yang merefleksikan sinyal mixed. Alhasil, data inflasi justru menjadi nada negatif bagi pergerakan EUR dan melanjutkan pelemahan.
Ditambah lagi, rumor bahwa Gubernur ECB yang baru yakni Christine Lagarde melarang para pejabat bank sentral untuk berkomentar tentang kebijakan moneter secara publik sebelum rapat kebijakan digelar Kamis (23/01).
Kondisi tersebut justru akan membuat pelaku pasar menambah sentimen bearish terhadap EUR. Selanjutnya, para pelaku pasar juga fokus pada Indeks Harga Produsen Jerman (PPI) untuk Desember yang menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan.
Tampaknya program stimulus Bank Sentral Eropa (ECB) tengah menjadi sentimen positif bagi mata uang yang memberikan yield tinggi. Seperti yang diberitakan sebelumnya, ECB memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga deposito di bawah nol pada laporannya dipekan lalu.
Berdasarkan keterangan resmi ECB, bank sentral Eropa menurunkan tingkat suku bunga deposito menjadi minus 0.10% dari sebelumnya 0%. Kebijakan ini menjadi kebijakan institusi dunia pertama di mana bank sentral utama global menerapkan suku bunga deposito negatif.
Selain itu, ECB juga memangkas tingkat suku bunga acuan menjadi 0.15% dari sebelumnya 0.25%. Kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas suku bunga acuannya ini diharapkan bisa menjadi angin segar bagi negara-negara berkembang. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan Eropa ini bisa memicu pengalihan dana investor asing ke negara-negara berkembang, karena pemangkasan bunga acuan ECB akan mempengaruhi strategi atau arah investor asing dalam mengalokasikan modalnya.
Pemangkasan suku bunga acuan ECB juga diprediksi bakal mengurangi tekanan suku bunga internasional yang berpotensi naik menyusul rencana Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mengerek suku bunga acuan dari 0%-0.25% saat ini dan berencana mengurangi stimulus (tapering off).







