
Pada perdagangan pasar valuta asing hari Rabu, 04 September 2019, Dolar Amerika Serikat (USD) melemah karena data manufaktur Amerika Serikat yang lemah memicu ekspektasi pelonggaran kebijakan yang agresif.
Dilansir Reuters, data aktivitas sektor manufaktur yang dirilis Institute for Supply Management (ISM) mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
ISM mencatat dan melaporkan bahwa indeks aktivitas pabrik nasional turun menjadi 49,1, jauh lebih rendah dibandingkan dengan angka 51,1 yang dipredikasi oleh analis dalam survei Reuters.
“Data manufaktur Amerika Serikat memberikan sinyal bahwa tarif baru tidak dapat datang pada waktu yang lebih buruk. Ini adalah berita buruk di atas berita buruk. Itulah sebabnya investor sangat fokus pada negosiasi,” ujar Alec Young selaku direktur pelaksana riset pasar global di FTSE Russell.
Hal ini menekan greenback dan menguatkan pasar obligasi karena investor meningkatkan ekspektasi pada pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) sebelum hari raya Natal.
Indeks Dolar Amerika Serikat yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, tampak melemah sekitar 0,056 poin atau 0,06 persen ke kisaran level 98,944 pada pukul 08.07 WIB.
https://www.youtube.com/watch?v=X6JtMzvp7Co
Indeks Dolar Amerika Serikat sebelumnya dibuka melemah 0,034 poin atau sebesar 0,03 persen ke kisaran level 98,996, setelah pada akhir perdagangan hari Selasa, 3 September 2019 lalu ditutup menguat 0,084 poin atau 0,08 persen di posisi 99.
“Harapan bahwa the Fed akan datang untuk menyelamatkan ekonomi telah meningkat,” ujar Rodrigo Catril selaku analis valas senior di National Australia Bank, seperti dikutip Reuters.
“Namun hal itu bukan kapitalisasi pada Dolar, melainkan hanya menghentikan kenaikan Dolar baru-baru ini,” lanjutnya.
Turut menekan Dolar Amerika Serikat (USD), Poundsterling (GBP) menguat setelah anggota parlemen Inggris memilih untuk mengendalikan agenda parlemen dan menjadwalkan pemungutan suara lain pada hari Rabu mendatang.
Jika pemungutan suara tersebut berhasil, maka hal ini akan memaksa Perdana Menteri Boris Johnson untuk mencari lebih banyak waktu dari Uni Eropa (UE) dan mencegah terjadinya “hard Brexit.”
Poundsterling (GBP) terlihat menguat sebesar 0,16 persen atau 0,0019 poin ke kisaran level US$1,21 pada pukul 08.39 WIB.
Prospek “hard Brexit” telah menjadi sumber utama kekhawatiran bagi pasar mata uang. Pada hari Selasa,3 September 2019 lalu, Poundsterling (GBP) telah turun di bawah $ 1,20 dan mencapai level terendah sejak Oktober 2016.
Lebih dari tiga tahun lamanya setelah Inggris memberikan suara dalam referendum untuk meninggalkan Uni Eropa (UE), proses Brexit masih tetap belum terselesaikan dan menjadi sumber kekacauan politik terbesar.
didimaxforex.com






