Dolar AS Menguat Di Tengah Melemahnya Poundsterling Akibat Tertekan Brexit

Dolar AS Menguat Di Tengah Melemahnya Poundsterling Akibat Tertekan Brexit

Pada akhir perdagangan pasar valuta asing hari Senin waktu setempat (Selasa WIB), kurs Dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, di tengah penurunan mata uang poundsterling Inggris (GBP). Sejauh ini persoalan Brexit masih terus membayang-bayangi dan menekan pergerakan poundsterling (GBP).

Pada hari Selasa, 3 Setpember 2019, indeks Dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, naik sebesar 0,13 persen menjadi 99,0338 dalam perdagangan terakhir. Pada perdagangan terakhir sesi New York, Euro (EUR) turun jadi USD1,0970 dari USD1,0978 pada sesi sebelumnya, dan Pound Inggris (GBP) turun jadi USD1,2067 dari USD1,2154 pada sesi sebelumnya.


Lalu Dolar Australia (AUD) turun menjadi USD0,6716 dibandingkan dengan USD0,6728 pada sesi sebelumnya. Disisi lain Dolar AS dibeli 106,19 Yen Jepang (JPY), lebih rendah dibandingkan dengan 106,25 Yen Jepang (JPY) pada sesi sebelumnya. Dolar AS juga turun menjadi 0,9904 Franc Swiss (CHF) dibandingkan dengan 0,9906 Franc Swiss (CHF) pada sesi sebelumnya, dan naik menjadi 1,3328 Dolar Kanada (CAD) dibandingkan pada sesi sebelumnya dengan 1,3319 Dolar Kanada (CAD).

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson mengimbau kepada anggota parlemen untuk memberikan suara menentang penundaan tak berarti Brexit, yang sedang dikampanyekan oleh pemimpin oposisi Partai Buruh Jeremy Corbyn dan beberapa pemberontak Tory, dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin ada pemilihan.

“Mari kita selesaikan Brexit pada tanggal 31 Oktober mendatang,” ujar Perdana Menteri Boris Johnson berbicara kepada wartawan di depan Downing Street 10 setelah pertemuan kabinet darurat. Boris Johnson juga meminta anggota parlemen untuk tidak memblokir rencana Brexit-nya saat ia berjanji untuk membawa negaranya keluar dari Uni Eropa pada tanggal 31 Oktober dengan atau tanpa kesepakatan.

Sementara itu, aktivitas perdagangan minyak tipis karena libur publik untuk Hari Buruh Amerika Serikat. Amerika Serikat baru akan mulai memberlakukan tarif 15 persen untuk berbagai barang asal Tiongkok mulai hari Minggu 1 September saat Tiongkok memberlakukan tarif impor baru terhadap minyak mentah Amerika Serikat, peningkatan terbaru dalam perang dagang yang sangat merugikan.

PUSAT EDUKASI TRADING FOREX DIDIMAX

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menngungkapkan bahwa kedua belah pihak masih akan bertemu untuk melakukan perbincangan bulan ini. Donald Trump, yang menulis di Twitter, mengatakan tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan Amerika Serikat terhadap Tiongkok, dan ia kembali mendesak perusahaan-perusahaan Amerika untuk mencari pemasok alternatif di luar Tiongkok.

“Sekalipun Presiden Donald Trump telah mengisyaratkan bahwa pembicaraan terjadwal antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih akan dilanjutkan, namun pasar semakin banyak mengundurkan diri ke kebuntuan yang berlarut-larut antara kedua negara dan akan mencari ke arah pelonggaran bank sentral untuk menopang selera risiko,” ujar Harry Tchilinguirian dari BNP Paribas.

Retribusi China sebesar lima persen pada minyak mentah Amerika Serikat menandai pertama kalinya bahan bakar telah ditargetkan sejak dua negara dengan ekonomi terbesar dunia itu memulai perang dagang mereka lebih dari setahun yang lalu.

CARA DAFTAR AKUN DEMO TRADING DI DIDIMAX

didimaxforex.com

(Visited 16 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Call Now ButtonHubungi saya disini