Dolar AS Menguat Terhadap Yen Karena Iran Belum “Balas Dendam”

Dolar AS Menguat Terhadap Yen Karena Iran Belum "Balas Dendam"

Nilai tukar Yen (JPY) melemah melawan Dolar Amerika Serikat (USD) sejak hari Senin kemarin dan berlanjut pada perdagangan pasar valuta asing Selasa, 7 Januari 2020. Ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran di Timur Tengah masih menjadi headline yang menggerakkan nilai tukar mata uang.

Tetapi hingga hari ini, Iran yang belum melakukan “balas dendam” membuat para pelaku pasar lebih tenang, sentimenpun sedikit membaik, dan kembali masuk ke aset berisiko yang berimbal hasil tinggi.

Dampaknya, Dolar Amerika Serikat (USD) berhasil memukul balik Yen (JPY). Pada pukul 10:03 WIB, Yen (JPY) diperdagangkan di kisaran level 108,48/US$, melemah sebesar 0,11% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Pada hari Senin kemarin, Yen (JPY) melemah sebesar 0,26%.

EDUKASI TRADING FOREX GRATIS

Meski sama-sama menyandang status aset aman (safe haven), tetapi saat terjadi gejolak geopolitik maupun finansial, Yen (JPY) selalu lebih unggul dibandingkan Dolar Amerika Serikat (USD).

Penyebabnya, karena Jepang merupakan negara kreditur terbesar di dunia. Berdasarkan data Kementerian Keuangan Jepang jumlah aset asing yang dimiliki pemerintah, swasta, dan individual Jepang mencapai US$ 3,1 triliun di tahun 2018. Status tersebut mampu dipertahankan dalam 28 tahun berturut-turut.

Saat terjadi gejolak di pasar finansial seperti saat ini, para investor asal Jepang akan merepatriasi dananya di luar negeri, sehingga arus modal kembali masuk ke Negeri Sakura tersebut, dan Yen (JPY) pun menjadi menguat.

Tetapi kini, dengan membaiknya sentimen para pelaku pasar, arus modal sepertinya kembali keluar dari Jepang, dan menuju aset beresiko yang berimbal hasil tinggi.

“Pasar masih mencerna dampak dari situasi di Iran” ujar Edward Moya, analis pasar senior di OANDA New York.

https://www.youtube.com/watch?v=046KNJAtkVg

 

“Kita melihat Dolar Amerika Serikat (USD) sedikit melemah melawan mata uang safe haven lainnya, tapi saya pikir minat terhadap aset berisiko akan kembali. Jika Iran membalas Amerika Serikat, para pelaku pasar tahu akan risikonya” tambah Moya, sebagaimana dilansir sumber.

Seperti diketahui sebelumnya, situasi di Timur Tengah memanas sejak pekan lalu Jumat, 3 Januari 2020 setelah adanya pesawat tanpa awak Amerika Serikat yang melancarkan serangan di Bandara Baghdad yang menewaskan Jenderal Quds Force, pasukan elite Iran, Qassim Soleimani bersama dengan wakil komandan milisi Irak yang didukung Iran atau yang dikenal dengan Popular Mobilization Forces (PMF).

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengutuk keras tindakan Amerika Serikat tersebut. Dirinya menyatakan bahwa Iran tidak takut untuk membalas Amerika Serikat. “Amerika Serikat bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari keputusan jahatnya,” tegasnya melalui akun Twitter sebagaimana dikutip Reuters, pada hari Jumat, 3 Januari 2020.

Sementara pada hari Sabtu, 4 Januari 2020 waktu Washington, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui akun Twitter-nya memperingatkan Iran untuk tidak melakukan balasan atas tewasnya Jendral Soleimani. Jika peringatan tersebut tidak dihiraukan, Donald Trump akan menyerang sebanyak 52 wilayah Iran sebagai balasan.

Edukasi dan Bimbingan Trading Forex di Didimax

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *