Emas Melemah Disaat AS Dan Eropa Akan khiri Lockdown

Emas Melemah Disaat AS Dan Eropa Akan khiri Lockdown

Usai sebelumnya reli tak terbendung dan mencapai level tertinggi nyaris dalam kurun waktu 8 tahun terakhir, harga komoditas emas dunia di pasar spot akhirnya melemah akibat rencana Amerika Serikat dan Eropa yang akan segera mengakhiri karantina wilayah alias lockdown.

Pada hari Senin (20/4/2020), harga emas dunia di pasar spot turun 0,37% ke level US$ 1.678/troy ons. Pekan lalu, harga emas anjlok 1,95% di hari penutupan, mengacu data Refinitiv.

Harga emas harus anjlok setelah Gedung Putih merilis dokumen panduan untuk kembali membuka ekonomi Amerika Serikat yang selama ini terhenti sebagai upaya menekan laju transmisi penyebaran wabah virus corona (Covid-19).

Tak hanya Amerika Serikat, beberapa negara Eropa juga mulai menunjukkan adanya penurunan kasus baru per hari dan melakukan hal yang sama yakni mulai melonggarkan pembatasan yang selama ini dilakukan.

Austria juga menjadi salah satu negara di Eropa yang melonggarkan pembatasan sosialnya. Pada hari Selasa pekan lalu, Austria sudah memperbolehkan pertokoan dengan luas 400 meter persegi untuk buka dan beroperasi dengan catatan tetap membatasi jumlah orang yang berada di dalam toko serta tetap menerapkan aturan jaga jarak.

EDUKASI TRADING FOREX GRATIS

Di Denmark sekolah-sekolah dasar sudah mulai kembali dibuka dan rumah sakit sudah mulai menangani pasien-pasien selain yang terjangkit virus corona. Sementara itu, Presiden Perancis Emmanuel Macron juga mengatakan akan mencabut larangan yang selama ini diterapkan pada 11 Mei nanti.

Upaya untuk segera bangkit dari keterpurukan tersebut ternyata diapresiasi oleh pasar. Sentimen terhadap aset berisiko kembali pulih dan bursa saham global mengalami reli. Sentimen lain yang juga turut menopang apresiasi aset-aset berisiko adalah kabar manjurnya Remdesivir produksi Gilead Science dalam menyembuhkan pasien positif Covid-19.

Pasar saham yang kembali reli membuat emas sebagai aset safe haven menjadi tertekan. Investor kembali memilih aset-aset yang lebih berisiko. “Emas dan saham berkorelasi negatif beberapa hari ini dengan reli ekuitas semalam menekan kinerja emas.

Pedoman dari Donald Trump untuk membuka kembali perekonomian telah mendorong pasar ekuitas,” ujar Tai Wong, kepala perdagangan derivatif logam mulia dan dasar di BMO sebagaimana diwartakan Reuters.

“Jika saham bisa memperpanjang reli overnight, itu bisa memicu lebih banyak aksi take profit dalam emas,” tambahnya.

Namun ada hal yang perlu di sorot terkait kebijakan AS dan Eropa yang akan kembali membuka perekonomiannya. Rencana AS dan beberapa negara Eropa untuk kembali memulai aktivitas sebenarnya masih menunjukkan adanya risiko. Apalagi dalam panduan yang dirilis Gedung Putih pada hari Kamis pekan lalu, Pemerintah Pusat AS menyerahkan kepada negara bagian masing-masing untuk mengambil keputusan kapan dan bagaimana mekanismenya.

Pembukaan lockdown masih ada nada-nada gambling mengingat adanya kemungkinan wabah gelombang kedua. Jika hal ini terjadi ekonomi akan semakin susah untuk bangkit dan pulih kembali.

Kepala Ekonomi IMF kembali mengingatkan bahwa meskipun ekonomi diramal pulih pada tahun 2021. Namun ini bukanlah pulih dalam arti sebenarnya. Artinya dampak dari krisis kesehatan yang merembet ke perekonomian ini tak bisa dianggap sepele. Setiap kesalahan dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan harus dibayar mahal.

Apalagi laporan yang membuat pasar optimis berasal dari obat Remdesivir produksi Gilead yang efektif melawan corona juga masih belum bisa disetujui seratus persen oleh pasar. Bagaimanapun juga pengembangan obat dan vaksin ini masih harus terus diuji secara klinis. Dan ini membutuhkan waktu dan tidak serta merta dapat langsung digunakan.

Sampai di sini masih ada faktor ketidakpastian yang masih membayangi. Apalagi dengan berbagai stimulus yang digelontorkan, emas masih menjadi aset yang dilirik oleh investor. Artinya peluang harga emas untuk naik lagi masih terbuka lebar.

Edukasi dan Bimbingan Trading Forex di Didimax

 

 

 

Sumber : CNBC Indonesia

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *