Harga emas di pasar spot pagi ini melemah jika dibandingkan pada posisi penutupan perdagangan komoditas pekan lalu. Saat ini pasar diwarnai dengan dua sentimen utama yaitu kesepakatan dagang fase satu antara Amerika Serikat (AS) dengan China dan ketegangan yang masih menyelimuti hubungan AS-Iran.
Mengawali perdagangan pekan ini, Senin 13 Januari 2020 harga emas di pasar spot menyentuh level US$ 1.556,79/troy ons melemah sekitar 0,34% dibanding posisi pada hari Jumat. Meskipun mengalami penurunan, logam mulia ini masih diperdagangkan di harga yang tinggi.
Harga emas terkoreksi pagi ini seiring dengan penandatanganan kesepakatan dagang fase satu AS-China yang dijadwalkan hari Rabu, 15 Januari 2020. Selama proses translasi poin-poin kesepakatan menjadi dokumen tertulis sejak pertengahan bulan Desember lalu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Steven Mnuchin menegaskan bahwa tak ada perubahan pada komitmen China.
Reuters melaporkan Mnuchin mengatakan pada Fox News bahwa China masih akan membeli produk pertanian Negeri Paman Sam tersebut senilai US$ 40 miliar hingga US$ 50 miliar secara tahunan dan produk Amerika Serikat lain senilai US$ 200 miliar dalam dua tahun.
Hal tersebut ditegaskan Mnuchin setelah beredar keraguan pada China soal poin kesepakatan pembelian produk pertanian dari Amerika Serikat setelah Beijing diketahui membeli kedelai dari Brazil.
“Itu (kesepakatan) masih tak berubah. Saya tidak mengetahui dari mana rumor itu beredar,” ujar Mnuchin dalam acara Sunday Morning Futures with Maria Batimoro Show.
“Kami telah melalui proses translasi yang kami pikir ini masalah teknis, dokumen akan diriis minggu ini. Saat hari penandatanganan dokumen dalam bahasa Inggris akan kami rilis” tambahnya.
https://www.youtube.com/watch?v=GmZdNJBuEFw
Walau penandatanganan kesepakatan fase satu sudah di depan mata dan tinggal menghitung hari, diskusi fase dua kemungkinan akan bergulir setelah pemilu Amerika Serikat pada bulan November nanti.
Sentimen damai dagang ini membuat harga emas terkoreksi. Hal ini disebabkan karena emas banyak dikoleksi kala kondisi ekonomi dan politik sedang tidak kondusif. Kala kondisi global dilanda ketidakpastian, para investor beralih ke emas untuk melindungi aset mereka, sehingga mendorong naiknya harga emas.
Walau terkoreksi, harga emas tidak jatuh terlalu dalam, mengingat hubungan Amerika Serikat-Iran yang masih panas. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan tidak akan membalas serangan Iran ternyata belum dapat meredakan ketegangan yang terjadi.
Pada hari Minggu, 12 Januari 2020 sebuah roket diluncurkan ke area markas pasukan kolasi Amerika Serikat di Irak bagian utara. Roket Katyusha tersebut mendarat di pangkalan udara Al-Balad yang merupakan rumah bagi pesawat F-16.
Serangan roket tersebut jatuh di zona hijau alias zona internasional. Peristiwa itu melukai empat orang di antaranya dua perwira Irak dan dua penerbang. Akibat kejadian ini sejumlah tentara dan pekerja Amerika Serikat dievakuasi.
“Sekitar 90% penasihat Amerika Serikat dan karyawan Sallypot dan Lockheed Martin (kontraktor)…telah mengungsi ke Tajidan Erbil setelah ancaman ini” kata salah seorang sumber mengutip berita AFP.
Mengetahui adanya serangan tersebut, Amerika Serikat mengutarakan kemarahannya melalui Menteri Luar Negeri Mike Pompeo. “(AS) marah dengan laporan serangan roket lain di pangkalan udara di Irak” ujar Mike melansir AFP.
“ini adalah pelanggaran terus menerus atas kedaulatan Irak oleh kelompok-kelompok yang tidak loyal… harus berakhir” tambahnya.
Kejadian itu menyusul adanya pernyataan untuk de-eskalasi ketegangan oleh kedua pihak baik Amerika Serikat maupun Iran. Meski belum ada pengakuan resmi dari Iran, Amerika Serikat menuding bahwa serangan tersebut dilakukan oleh kelompok milisi yang didukung Iran di Irak.








