Pada perdagangan hari Senin tadi malam, 09 Maret 2020, harga komoditas emas dunia berbalik melemah setelah sebelumnya sempat melewati kisaran level US$ 1.700/troy ons pada Senin pagi.
Data Refinitiv mencatat, begitu perdagangan awal pekan dibuka, harga emas langsung meambung sekitar 1,2% ke level US$ 1.694/troy ons. Tidak perlu waktu lama, harga logam mulia ini langsung mencapai level US$ 1.702,56/troy ons atau menguat 1,72% di pasar spot. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak bulan Desember 2012.
Namun setelah mencapai level tersebut, harga emas justru melemah hingga 1% ke kisaran US$ 1.657,36/troy ons.
Meski demikian bukan berarti harga emas akan terus merosot, mengingat penguatan tajam hingga melewati US$ 1.700/troy ons untuk pertama kalinya tentunya memicu aksi ambil untung (profit taking) yang membuat harganya turun.
Ketika profit taking mereda, harga emas tentunya bisa kembali naik, apalagi bursa saham global sedang mengalami aksi jual, yang tentunya membuat emas menjadi investasi alternatif terfavorit. Emas merupakan aset yang dianggap aman (safe haven) dan menjadi buruan para pelaku pasar ketika terjadi gejolak di pasar finansial.
Terbukti, ketika menjelang dibukanya perdagangan sesi Amerika Serikat, harga emas berhasil menipiskan pelemahan hingga 0,05% saja, di level US$ 1.673/troy ons pada pukul 19:35 WIB, tadi malam.
Bursa saham Asia pada perdagangan Senin kemarin melemah. Data perdagangan mencatat, indeks Nikkei Jepang jeblok lebih dari 5%, Kospi Korea Selatan lebih dari 4% dan Shanghai Composite China lebih dari 3%.
Sementara itu bursa Eropa lebih parah lagi, DAX 30 Jerman, FTSE 100 Inggris dan CAC 40 Perancis, ambles lebih dari 7%. Sementara itu FTSE MIB Italia anjlok lebih dari 10%.
Tadi malam, perdagangan di bursa saham Wall Street AS dihentikan hanya hitungan menit setelah dibuka pada Senin, 09 Maret 2020. Seperti dikutip dari Reuters, penghentian perdagangan dilakukan karena indeks S&P 500 turun 7% dan memicu penghentian otomatis perdagangan selama 15 menit. Ini merupakan penghentian perdagangan pertama sejak krisis pada tahun 2008-2009.
https://www.youtube.com/watch?v=fRu4t7ur3kk
Pada hari Selasa, 03 Maret 2020 malam (Selasa pagi waktu AS), The Fed mengumumkan pemangkasan suku bunga acuannya atau Federal Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin (bps) ke 1%-1,25%. Pemangkasan mendadak itu menjadi yang pertama sejak bulan Desember 2008 atau saat krisis finansial 2008. Kala itu The Fed memangkas suku bunga sebesar 75 bps.
Bank sentral paling powerful di dunia ini seharusnya mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada tanggal 17-18 Maret waktu AS, tetapi penyebaran wabah corona virus menjadi alasan mengapa The Fed memangkas suku bunga lebih awal dari jadwal RDG. Pemangkasan itu sebenarnya sudah diprediksi oleh para pelaku pasar, hanya saja terjadi lebih cepat dari jadwal RDG pekan mendatang.
Para pelaku pasar memprediksi bahwa The Fed masih akan memangkas suku bunga lagi saat mengumumkan suku bunga pada tangaal 18 Maret (19 Maret waktu Indonesia) mendatang.
Berdasarkan piranti FedWatch milik CME Group, para pelaku pasar melihat adanya probabilitas sebesar 77,5% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 50 bps menjadi 0,5-0,75%.
Selain itu, para pelaku pasar juga melihat probabilitas sebesar 22,5% bahwa suku bunga akan dipangkas sebesar 75 bps menjadi 0,25%-0,5%, dan tidak ada probabilitas suku bunga dipangkas 25 bps ataupun dipertahankan.
Emas merupakan aset tanpa imbal hasil, suku bunga rendah di AS membuat opportunity cost atau atau biaya yang ditanggung karena memilih investasi emas, dibandingkan investasi lainnya, misalnya obligasi AS, sehingga ketika suku bunga di AS turun, harga emas cenderung menguat.







