Harga emas dunia pada perdagangan Selasa lalu menguat 0,95%, setelah mengalami kemerosotan dalam lima perdagangan sebelumnya. Total selama periode tersebut, harga emas dunia ambles nyaris 10%.
Sementara pada perdagangan Rabu kemarin, harga emas kembali merosot 2,77% ke Rp 1.486/troy ons di pasar spot, melansir data Refinitiv.
Namun yang menarik, penurunan harga emas kemarin kembali terjadi saat bursa saham mengalami aksi jual. Bursa saham Asia kembali memerah, indeks Shanghai Composite China dan Nikkei Jepang melemah lebih dari 1,5%, sementara Hang Seng Hong Kong dan Kospi Korea Selatan ambles lebih dari 4%.
Indeks berjangka (futures) Wall Street juga kembali merosot, hingga sore ini, Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq futures merosot sekitar 4%. Kembali memerahnya indeks futures tersebut menjadi indikasi Wall Street kembali merosot pada hari ini, setelah Selasa kemarin menguat tajam.
Benar saja, Kamis pagi ini (19/3), Dow Jones ditutup minus hingga 6,30%, juga S&P 500 minus 5,18% dan Nasdaq turun 4,70%.
Pergerakan pasar saham yang memerah tersebut menunjukkan masih buruknya sentimen pelaku pasar akibat wabah virus corona.
Emas merupakan aset yang dipandang aman (safe haven) dan menjadi buruan pelaku pasar saat bursa saham yang merupakan aset berisiko mengalami aksi jual. Dengan kata lain, ketika bursa saham sedang merosot tajam, harga emas akan melesat naik.
Tetapi hal tersebut tidak terjadi saat ini. Kemerosotan tajam di pasar saham tentunya membuat banyak investor mengalami margin call atau pemberitahuan untuk membayar kekurangan dana.
https://youtu.be/Jqt5sttDK94
Sementara harga emas sudah cukup tinggi, bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak tahun 2012. Akibatnya, pelaku pasar mencairkan keuntungan dari investasi emas, dan memasukkan kembali di bursa saham untuk menghindari kekurangan dana, dengan harapan bursa saham akan bangkit ketika wabah virus corona berakhir.
Akibatnya harga emas turut merosot mengiringi kejatuhan bursa saham global.
Harga emas juga ambles saat bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengambil kebijakan seperti ketika krisis 2008.
Di awal pekan ini, The Fed memangkas suku bunga acuan (Federal Funds Rate/FFR) sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 0-0,25%. Suku bunga tersebut menjadi yang terendah sejak tahun 2015. Selain itu The Fed juga mengaktifkan kembali program pembelian aset (Quantitative Easing/QE) senilai US$ 700 miliar.
Bank sentral paling powerful di dunia ini juga memangkas suku bunga pinjaman darurat untuk perbankan sebesar 125 bps menjadi 0,25% dan memperpanjang tenornya menjadi 90 hari. Pemangkasan suku bunga agresif dilakukan demi melindungi perekonomian AS dari dampak negatif pandemi virus corona.
Suku bunga rendah dan QE merupakan kombinasi yang sempurna bagi emas untuk terus melesat naik. Saat krisis finansial global 2008, The Fed juga melakukan hal yang sama, dampaknya harga emas terus bergerak naik hingga mencapai rekor tertinggi US$ 1.920/troy ons pada bulan September 2011.
Namun saat ini kondisinya terlihat berbeda, pelaku pasar tidak terlalu tertarik lagi dengan emas akibat pandemik virus corona yang belum diketahui sampai kapan berlangsung, serta kejatuhan bursa saham global.
Semakin lama wabah virus corona berlangsung, aktivitas ekonomi akan semakin menurun seiring semakin banyaknya negara yang mengisolasi warganya agar virus corona tidak terus menyebar. Pertumbuhan ekonomi global semakin berisiko terpangkas lebih dalam.
Tanpa aktivitas ekonomi, masyarakat tentu memerlukan uang tunai untuk memenuhi kebutuhannya, sehingga uang tunai menjadi lebih menarik dibandingkan emas atau saham. Dua instrumen investasi yang berstatus berlawanan itu (emas = safe haven, saham = aset berisiko) akhirnya sama-sama mengalami aksi jual dan bergerak searah, sama-sama merosot.
https://youtu.be/RhzquWvXzHs
sumber : cnbcindonesia.com




