
Hallo teman-teman trader! Berita forex hari ini datang dari Indeks Saham China dan Yuan Terperosok Setelah Di Gertak Donald Trump. Hal ini terjadi akibat perang dagang antara keduanya yang tak kunjung mendatkan titik terang.
Indeks saham berjangka China terperosok bersama dengan nilai tukar mata uang Yuan (CNY) terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (USD) akibat tertekan kekhawatiran muramnya prospek perjanjian perdagangan dengan Amerika Serikat.
Pemerintah China dikabarkan tengah memikirkan untuk menunda mengirimkan negosiator perdagangannya ke Washington pada minggu ini setelah Presiden Donald Trump menggertak China dengan pengenaan tarif yang lebih tajam.
Dilansir dari Bloomberg, gertakkan dari Donald Trump ini dilancarkan karena melihat lambatnya kemajuan dalam negosiasi perdagangan antara kedua negara yang memiliki ekonomi terbesar di dunia ini.
Pada perdagangan pagi ini hari Senin, 6 Mei 2019 kontrak berjangka Singapura yang diperdagangkan pada indeks FTSE China A50 pun menurun sebanyak 4,4 persen, sedangkan mata uang Yuan (CNY) mengalami penurunan drastis dalam tiga tahun terakhir.
Hao Hong selaku chief strategist di Bocom International Holdings Co. mengatakan bahwa “Berita tersebut mengalihkan fokus pasar dari pemulihan ekonomi yang mulai timbul ke volatilitas jangka pendek. Aset-aset berisiko akan berada di bawah tekanan untuk saat ini”.
https://www.youtube.com/watch?v=cbwRInNMlUQ
“[Namun] karena kedua belah pihak menginginkan kesepakatan, saya terus meyakini bahwa tren naik (bullish) jangka panjang akan mengalahkan volatilitas jangka pendek,” tambahnya.
Menurut Hao Hong, jika pasar ekuitas China mengalami penekanan jual yang signifikan, maka pihak otoritas kemungkinan akan melakukan intervensi untuk mendukung pasar.
Optimisme bahwa China dan Amerika Serikat akan memperoleh kesepakatan dalam negosiasi perdagangan tersebut, membantu menjadikan saham-saham Shanghai menjadi yang terpanas di dunia pada awal tahun ini.
Meskipun lemahnya kinerja keuangan perusahaan dan kekhawatiran berkurangnya stimulus pemerintah telah membuat indeks Shanghai Composite menurun hampir 6 persen dari level tertingginya pada bulan April.
Sementara itu, untuk nilai tukar mata uang Yuan (CNY) melemah sebanyak 1,3 persen menjadi 6,8218 per Dolar Amerika Serikat (USD). Kondisi tersebut merupakan level terendah sejak tanggal 10 Januari, sebelum diperdagangkan di 6,8153 pada hari Senin, 6 Mei 2019 pukul 9.09 pagi waktu Hong Kong.
Donald Trump sebelumnya telah menunda pengenaan kenaikan tarif menjadi 25 persen dari 10 persen terhadap barang impor China senilai US$200 miliar setelah menyetujui gencatan senjata dengan Presiden China Xi Jinping pada tanggal 1 Desember 2018 untuk memberikan waktu bagi perunding dari kedua belah pihak untuk menyusun perjanjian yang komprehensif.
Namun entah mengapa kemudian Donald Trump secara dramatis meningkatkan tekanan pada China untuk memperoleh kesepakatan perdagangan dengan mengumumkan akan menaikkan tarif impor atas produk China senilai US$200 miliar pada minggu ini.
“Kesepakatan Perdagangan dengan China masih berlanjut, tetapi terlalu lambat, karena mereka berusaha untuk menegosiasikannya kembali. Tidak!” tulis Donald Trump dalam akun Twitter.
Sikap dari Donald Trump tesebut menunjukkan bahwa eskalasi perang dagang yang telah terjadi selama berbulan-bulan ini hampir pasti akan mengacaukan pasar keuangan yang selama ini bereaksi secara sensitif terhadap perkembangan perundingan antara Amerika Serikat dan China.







