Berita komoditas terbaru hari ini – Harga minyak mentah berjangka terdesak dikarenakan dorongan kekhawatiran atas pelemahan pertumbuhan ekonomi global di tengah ketidakpastian perbincangan perdagangan China dan Amerika Serikat.
Menurut laporan Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level US$61,61 per barel, meburun 0,08% atau 0,05 poin sampai pukul 09.10 WIB, Senin (13/5/2019). Sedangkan harga minyak mentah Brent hanya naik tipis 0,18% atau 0,13 poin pada level US$70,75 per barel.
Amerika Serikat dan China menemui ketidakpastian dalam kesepakatan dagang pada Minggu (12/5/2019) waktu setempat. Dengan tanpa menghasilkan kesepakatan mengakibatkan pasar semakin cemas tentang nasib konflik dagang tersebut.
Permasalahan dagang kedua raksasa ekonomi dunia itu bereskalasi pada Jumat (10/5/2019), karena Amerika Serikat meningkatkan tarif pada barang-barang China sekitar US$200 miliar. Hal itu dilaksanakan usaiPresiden Donald Trump menyebut Beijing telah mengingkari kesepakatan.
Data International Energy Agency memperlihatkan jika Amerika Serikat bersama China ialah konsumen minyak mentah terbesar di dunia. Kedua negara tersebut menyumbang 34% konsumsi minyak global pada kuartal I/2019.
Walaupun demikian, harga minyak mencapai dukungan untuk menguat pada minggu lalu, karena investor memperkirakan sejumlah kilang Gulf Coast AS dan Midwestern, yang keluar dari pemeliharaan musiman. Hal tersebut telah mendorong permintaan minyak menjelang musim panas Amerika Serikat.
“Minyak mentah mempunyai potensi besar untuk naik, dengan dimulainya pengilangan Gulf [Coast] permintaan akan secara signifikan di suplai untuk sekitar 100 hari ke depan” ujar Tom Kloza yang merupakan Kepala Analis Minyak di Oil Price Information Service.
Di sisi itu, investor juga berpusat pada penyempitan pasokan menyusul pengurangan produksi yang dipimpin oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) sejak awal tahun. Para investor percaya OPEC dan sekutunya akan memperpanjang perjanjian penurunan produksi 6 bulan dalam beberapa minggu mendatang.
https://www.youtube.com/watch?v=iyaBdEyghzk
Gene McGillian yang merupakan Wakil Presiden Riset Pasar di Tratidition Energy, Stamford, Conecticut menyatakan, bahwa pihaknya tengah menunggu untuk melihat apakah Arab Saudi memberi isyarat untuk produksi minyak dalam beberapa minggu mendatang. “Pasar sedang mencari pendorong (harga minyak) berikutnya,” ujarnya.
Selain pemotongan produksi, pasar minyak pun telah mendapat dukungan harga dari tahapan Washington memotong ekspor minyak Iran menjadi nol.
Amerika Serikat menjalankan kembali sanksi atas Negeri Para Mullah itu pada November, usai menarik diri dari perjanjian nuklir 2015, antara Teheran dan sejumlah kekuatan dunia.
Dalam perjalanannya, Amerika Serikat memberikan kelonggaran kepada para pembeli minyak Iran untuk terus membeli minyak secara terbatas selama 6 bulan. Akantetapi pengecualian itu berakhir pada awal Mei tahun ini.
China Petrochemical Corp (Sinopec Group) dan China National Petroleum Corp (CNPC), dua BUMN minyak China, mengabaikan pembelian minyak Iran untuk persediaanMei 2019, usai Washington mengakhiri kelonggaran sanksi untuk meningkatkan tekanan pada Teheran.







