
Berikut berita terbaru mengenai forex hari ini – Pada perdagangan pagi ini, Rabu (11/9/2019), Indeks dolar AS terus mengalami kenaikan tipis di zona hijau menghadapi sejumlah pertemuan kebijakan sejumlah bank sentral.
Menurut laporan Bloomberg, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS atas sejumlah mata uang dunia, naik 0,059 poin atau 0,06 persen ke level 98,385 pada pukul 08.46 WIB dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (10/9), indeks dolar AS berakhir dengan kenaikan tipis 0,05 persen atau 0,045 poin di level 98,326.
Dikutip dari Reuters, investor berfokus pada pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis (12/9/2019), yang diprediksi akan mendorong suku bunga lebih jauh ke wilayah negatif.
ECB bisa menyesuaikan sikapnya untuk keputusan penetapan suku bunga yang akan datang oleh The Fed dan Bank of Japan (BOJ) minggu depan, serta untuk daya tarik aset berisiko global.
Sentimen positif sekarang ini masih membantu aset berisiko usai krisis politik yang membuat pasar suram, mulai dari Brexit di Inggris sampai aksi unjuk rasa di Hong Kong, mereda sekaligus menurunkan daya tarik aset safe haven.
Di sisi lain terliat pula tanda-tanda perlambatan permintaan global yang sudah seimbang dengan perkembangan positif baru-baru ini dalam rencana kesepakatan perdagangan AS-China.
“Diprediksi perdagangan hari ini akan berlangsung sepi, dengan sebagian dukungan untuk aset berisiko karena rotasi siklus yang lebih luas berlanjut,” kata analis Australia and New Zealand Banking Group dalam sebuah catatan.
“Spekulasi mengenai apakah ECB akan memberlakukan program QE (quantitative easing) baru pada Kamis (12/9) terus berkurang dan mengalir,” lanjutnya.
Berdasarkan sumber-sumber terkait, para pembuat kebijakan ECB lebih ke arah paket yang meliputi penurunan suku bunga, janji untuk mempertahankan suku bunga rendah lebih lama dan kompensasi untuk bank atas efek samping dari suku bunga negatif.
Di sisi lain, masih kekhawatiran bahwa bank-bank sentral global mencapai batas opsi stimulus mereka, terutama yang memiliki suku bunga negatif dan imbal hasil obligasi negara jangka panjang di bawah nol.
“Mengingat kemungkinan bahwa ECB dapat gagal untuk menyesuaikan ekspektasi pasar atas pelonggaran kebijakan, keseimbangan risiko lebih berpihak pada pergerakan EUR/USD dan kinerja valas Eropa yang lebih tinggi,” ujar ahli strategi valas ING dalam sebuah catatan.






