Pekan Lalu Pecah Rekor, Emas Masih Bisa Tembus US$ 2.000/oz

 

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas dunia pada awal pekan ini, Senin (3/7/2020) melemah setelah readyviewed pekan lalu mencetak rekor tertinggi barunya sepanjang sejarah.

Pada 09.05 WIB, harga emas global spot terkoreksi 0,14% ke US$ 1.971/troy ons. Sebelumnya harga emas sempat menguat hingga US$ 1.984,66/troy ons.

Reli panjang emas diperkirakan masih akan berlanjut. Stop level selanjutnya berada di US$ 2.000/troy ons yang diyakini sebagai level resisten kuat emas selanjutnya. Saat krisis keuangan global 2008, harga emas sempat sentuh rekor tertingginya di US$ 1.920/troy ons pada September 2011.

Pergerakan selanjutnya harga emas akan sangat bergantung pada imbal hasil surat utang pemerintah AS yang semakin terperosok ke zona negatif. Hal ini disampaikan oleh kepala riset Pepperstone Chris Weston kepada Kitco.

Baca: Pagi-pagi Asing Sudah Kabur Rp 286 M, IHSG Terjerembab!

“Sentimen terhadap emas belum menunjukkan adanya sinyal bearish dan saya senang untuk hold dengan biasa akan bullish yang percaya bahwa koreksi yang terjadi nantinya tak banyak dan kemungkinan besar menuju level US$ 2.000” katanya.

Faktor lain yang juga dipandang penting sebagai penggerak harga logam mulia ini menurut para analis adalah negosiasi terkait stimulus fiskal AS.

“Setelah melewati berakhirnya tunjangan pengangguran, kami mengincar tenggat waktu ‘lunak’ Jumat ini sebelum Kongres menuju reses musim panas, meskipun ada opsi untuk melanjutkan pembicaraan sampai hari Senin tanggal 10,” kata Weston.

“Emas akan sangat tergantung dari seberapa banyak stimulus akan diberikan. Jika stimulus mulai turun, maka ada kemungkinan harga emas akan sedikit terkoreksi. Jika stimulus semakin banyak dan uang terus dicetak, maka harga emas harusnya naik” kata RJO Futures senior commodities broker Daniel Pavilonis.

Harga emas diperkirakan mengalami koreksi dalam jangka waktu dekat mengingat harga sudah mengalami kenaikan yang sangat cepat. Namun prospek emas ke depan masih bullish.

“Secara teknikal, harga emas sudah mencerminkan level jenuh belinya melihat reli yang terlalu cepat sehingga risiko untuk mengalami koreksi temporer meningkat. Namun risiko cenderung akan mendorong harga emas untuk naik dengan adanya indikator makro yang mendukung, koreksi dalam jangka waktu dekat harusnya dipandang sebagai momentum untuk beli” kata Suki Cooper analis Standard Chartered.

Risiko yang dihadapi untuk emas saat ini adalah suksesnya pengembangan vaksin untuk virus corona, kenaikan tajam dolar AS dan juga aksi ambil untung. Jika hal ini terjadi maka harga emas bisa anjlok seperti saat Maret lalu.

Bagaimanapun juga harga emas masih diperkirakan bakal menyentuh level di atas US$ 2.000 ke US$ 2.100 per troy ons pada akhir tahun menurut Warren Patterson kepala strategi komoditas ING.

Survei yang dilakukan oleh Kitco pada pelaku pasar menunjukkan bahwa mereka masih optimis harga emas bisa naik pekan ini. Sebanyak 17 analis Wall Street ikut serta dalam jajak pendapat minggu ini. Ada 10 (59%) analis yang optimis harga emas naik, tiga analis (18%) memperkirakan harga lebih rendah dan sisanya yakin emas akan bergerak sideways.

Sementara dari Main Street ada sebanyak 2.075 orang yang berpartisipasi dalam survei tersebut. Sebanyak 1.375 responden, atau 66%, yakin harga emas naik di minggu ini. Sebanyak 385 lainnya, atau 19%, mengatakan lebih rendah, sementara 315 pemilih, atau 15% netral.

info lebih lanjut klik gambar di bawah ini :

TEMPAT BELAJAR FOREX DI PALEMBANG

sumber : Liputan6

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *