Mata uang Poundsterling (GBP) menguat menjelang dibukanya perdagangan pasar valuta asing sesi kawasan Amerika Serikat (AS) hari Kamis, 3 Oktober 2019. Meskipun demikian, mata uang Inggris ini terlihat labil bahkan sejak awal pekan, dengan bergerak naik turun, dan pada akhirnya berakhir mendatar (sideways) atau menguat tipis.
Pada pukul 20:00 WIB, Poundsterling (GBP) diperdagangkan di kisaran level US$ 1,2377 atau menguat sebesar 0,63% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelum menguat, Poundsterling (GBP) sempat melemah sebesar 0,29%.
Deadline Brexit yang kini tinggal menghitung hari, menjadi penggerak utama Poundsterling (GBP). Tepat pada tanggal 31 Oktober, itu akan menjadi tenggat waktu yang diberikan oleh Komisi Eropa untuk Inggris keluar dari anggota di Uni Eropa (UE).
Kabar terbaru bahwa Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, sudah mengajukan proposal Brexit terbaru kepada Uni Eropa (UE), sebagaimana dilansir Reuters. Sejauh ini belum ada respon apapun dari Komisi Eropa perihal proposal tersebut.
Reuters melaporkan para analis skeptis proposal yang diajukan tersebut akan diterima Uni Eropa (UE) untuk menghindari no-deal Brexit pada tanggal 31 Oktober nanti. Meskipun demikian, beberapa hedge fund juga dikatakan akan mulai menutup posisi jual mereka. Aksi para hedge fund tersebutlah yang membuat Poundsterling (GBP) menguat pada hari ini.
No-deal Brexit merupakan keluarnya Inggris dari anggota Uni Eropa tanpa adanya kesepakatan apapun, dan hal ini merupakan kekhawatiran terbesar para pelaku pasar. Karena No-deal Brexit diperkirakan akan membawa Inggris ke dalam resesi.
https://youtu.be/D806PoCK5is
Salah satu kendala tercapainya kesepakatan antara Inggris dengan Uni Eropa adalah adanya backtstop atau kawasan bebas bea cukai di perbatasan Republik Irlandia dengan Irlandia Utara.
Analis dari MUFG mengatakan bahwa proposal kali ini akan menjadi monumental bagi Uni Eropa (UE) mengenai perbatasan Republik Irlandia dan Irlandia Utara yang selama ini menjadi kendala tercapaianya kesepakatan Brexit.
“Namun untuk saat ini, harapan akan adanya inovasi (dari proposal baru) yang akan mendorong penguatan Poundsterling (GBP), tapi kami melihat penguatan tersebut tidak akan berlangsung lama. Kami melihat adanya risiko pelemaham, dan level terlemah bulan September (US$ 1,1959) akan kembali diuji dalam beberapa hari/minggu ke depan” ujar analis MUFG sebagaimana dilansir Reuters.
Perkembangan Brexit ini akan terus menjadi penggerak utama Poundsterling (GBP) hingga akhirnya ada keputusan baru sesuai deadline pada tanggal 31 Oktober nanti.
didimaxforex.com







