
Berita forex hari ini datang dari mata uang Poundsterling Terpuruk di Hadapan Dolar AS dan telah mencatat penurunan selama delapan hari perdagangan berturut-turut.
Pada saat perdagangan hari Kamis, 25 April 2019 Mata Uang Poundsterling (GBP) kembali melemah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (USD). Mata uang Inggris ini terpuruk di hadapan dolar Amerika Serikat, hingga pada hari Rabu kemarin telah mencatat penurunan selama delapan hari perdagangan beruturut-turut.

Penurunan terus berlanjut pada hari ini, hingga menyentuh level terendah sejak tanggal 15 Februari lalu. Permasalahan terkait kesepakatan Brexit masih menjadi tekanan utama mata uang Poundsterling (GBP), bahkan menutupi data-data ekonomi yang bagus dari Inggris. Pada pukul 20:01 WIB mata uang Poundsterling (GBP) diperdagangkan di kisaran US$ 1,2887.
Pasar tenaga kerja, sebagai salah satu indikator kesehatan ekonomi tampak sangat kuat. Tingkat pengangguran pada Februari juga menurun sebesar 3,9% hingga menyentuh level terendah dalam 44 tahun terakhir. Bukan hanya itu, kenaikan upah rata-rata juga masih berada di kisaran 3,5% dan menjadi kenaikan tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Perekonomian di Negeri Ratu Elizabeth tersebut sebenarnya cukup kuat, namun ketidakpastian Brexit membuat masa depan masih buram.
https://www.youtube.com/watch?v=X6JtMzvp7Co
Dilansir dari Business Insider, kabar terbaru dilaporkan bahwa Perdana Menteri Theresa May akan mengajukan proposal untuk melakukan pemungutan suara Brexit sekali lagi ke Parlemen Inggris pada minggu depan.
Langkah tersebut terbilang berani mengingat pembicaraan dalam pembuatan proposal dengan Partai Buruh selaku oposisi juga belum menunjukkan jalan keluar. Padahal Proposal Brexit yang diajukan oleh Perdana Menteri Theresa May sebelumnya sudah tiga gagal di parlemen.
Jika memang benar Perdana Menteri Theresa May akan kembali mengajukan proposal Brexit, besar kemungkinan akan kembali gagal, terlebih lagi posisinya saat ini juga sedang di goyahkan oleh partainya sendiri, Partai Konservatif.
Pada hari Selasa tanggal 23 April lalu, para elite Partai Konservatif mengadakan pertemuan untuk merubah aturan pengajuan mosi akan ketidakpercayaan pada pimpinan mereka.
Perdana Menteri Theresa May sebelumnya sudah mendapat mosi tersebut sejak akhir tahun lalu, dan berhasil lolos sehingga posisinya sebagai ketua partai sekaligus perdana menteri masih aman.
Sesuai aturan yang sekarang, mosi tersebut bisa diajukan kembali dan para elite tengah berusaha untuk mempercepatnya. Namun usaha untuk mengganti aturan tersebut juga gagal tercapai, tapi setidaknya telah menunjukkan tanda-tanda perpecahan yang kuat di dalam partai pendukung pemerintah ini.
Dari Amerika Serikat, data pesanan barang tahan lama pada bulan Maret dilaporkan sebesar 2,7%, lebih tinggi dari perkiraan di 0,7%. Data ini semakin mendongkrak performa mata uang Dolar Amerika Serikat, dan membuat mata uang Poundsterling (GBP) berpeluang terus melemah hingga akhir perdagangan.
didimaxforex.com





