
Dolar Australia merosot ke level terendahnya dalam hampir satu dekade yang terakhir kali sempat dikunjungi sejenak pada bulan Januari tahun 2016. Hal ini terjadi setelah rilis risalah rapat kebijakan Bank sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) yang mengungkapkan serangkaian alasan untuk memotong suku bunga dalam waktu dekat.
Pada awal perdangan pasar valuta asing sesi Eropa, pasangan mata uang AUDUSD masih melemah di dekat kisaran level 0.6838, sedangkan pasangan mata uang AUDNZD merosot 0.25 persen ke kisaran level 1.0526.
Risalah yang dirilis oleh RBA mengungkapkan bahwa peserta rapat kebijakan pada bulan Juni menilai jika suku bunga “lebih mungkin” untuk turun di periode yang akan datang. Hal ini merupakan pernyataan yang sangat jelas mengenai prospek pemotongan suku bunga, meski para pelaku pasar sudah memperkirakan jika RBA akan melakukannya pada bulan Juli atau Agustus mendatang.
Selain itu, para pejabat RBA juga mengakui bahwa suku bunga bukanlah satu-satunya instrumen kebijakan moneter yang dapat digunakan untuk mendorong tingkat pengangguran agar menurun secara lebih lanjut.
Pada akhir tahun lalu, Gubernur Deputi RBA yakni Guy Debelle, telah mencetuskan opsi Quantitative Easing (QE) untuk menstimulasi perekonomian Australia, dengan mengikuti jejak sejumlah bank sentral lain seperti Bank Sentral Eropa (ECB) dan Federal Reserve (The Fed).
Risalah RBA kali ini tidak menyebutkan apakah opsi Quantitative Easing itulah yang dimaksud sebagai instrumen kebijakan alternatif. Namun, nada pernyataan RBA tersebut membuat para pelaku pasar kembali mempertimbangkan prospeknya.
Di sisi lain, risalah juga memaparkan sejumlah aspek yang bisa jadi membuat RBA lebih memilih instrumen alternatif dibandingkan dengan memodifikasi suku bunga lagi. Salah satunya, “Anggota (rapat) yang mengetahui bahwa banyak orang Australia yang berusia tua mengandalkan pendapatan berbasis bunga yang akan menurun jika suku bunga lebih rendah.”
Dampak dari penurunan suku bunga terhadap pendapatan rumah tangga tersebut bisa semakin mengikis daya beli masyarakat Australia. Padahal, kondisi berbagai sektor industri saat ini pun masih kurang prima karena besarnya ancaman dampak perang dagang antara Amerika Serikat dengan China terhadap outlook pertumbuhan ekonomi global.
Sebagai salah satu negara berbasis ekspor, Australia juga harus menghadapi risiko penurunan harga komoditas dan permintaan global yang dapat memengaruhi outlook pertumbuhan ekonomi domestiknya.
didimaxforex.com






