Rekomendasi Forex GBP/USD 18 Agustus 2020: Pasar Wait & See.

GBP/USD diperdagangkan disekitar 1.3100 ditengah outlook dari kepala ekonomi Bank of England (BoE) Haldane yang bagus.

Pasangan matauang GBP/USD gagal mengkapitalisir pergerakan positip intraday dan turun sekitar 40 pips dari ketinggian di area 1.3120 pada perdagangan sesi Eropa. Mandeknya langkah stimulus fiskal AS berikutnya karena masalah politik di AS, bersamaan dengan melemahnya imbal hasil obligasi treasury AS membuat dolar AS mengalami tekanan turun.

Hal ini terjadi ditengah optimisme terbaru akan potensi vaksin Covid – 19, yang tetap mendukung sentimen pasar yang bagus dan menekan dolar AS. Hal inilah yang menjadi faktor kunci yang memberikan sedikit dorongan naik terhadap GBP/USD selama paruh pertama perdagangan pada hari Senin kemarin.

Meskipun ada faktor positip yang mendukung naik, para trader dan investor Sterling memilih untuk menunggu menjelang pembicaraan Brexit yang akan datang yang akan membicarakan kembali hubungan kedepannya antara Inggris dan Uni Eropa. Negosiasi perdagangan bilateral antara Inggris dan Uni Eropa ini diadakan di Brusel pada hari Selasa 18 Agustus. Perlu diingat pada hari Kamis minggu lalu, kepala negosiator Inggris David Frost mengatakan bahwa kesepakatan Brexit bisa dicapai pada bulan September. Komentar ini menunjukkan bahwa kedua belah pihak tetap berkomitmen untuk mencapai kesepakatan. Sentimen ini bisa berlanjut memberikan dukungan terhadap Pounsterling dan membantu membatasi penurunan yang dalam atas GBP/USD.

Sentimen resiko global tetap bagus didukung oleh optimisme akan potensi vaksin dan ditambah dengan ditundanya review mengenai kesepakatan perdagangan AS – Cina yang lebih jauh memberikan kepercayaan pada hari pertama perdagangan di minggu yang baru.

“Resistance” terdekat menunggu di 1.3140 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3185 dan kemudian 1.3200. “Support” terdekat menunggu di 1.3035 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3000 dan kemudian 1.2980.

 

Source : Vibiznews

Harga Emas Makin Turun Dipicu Penguatan Dolar AS

Harga Emas Makin Turun Dipicu Penguatan Dolar AS

Harga emas makin turun, karena penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya. Hal ini mendorong investor untuk mengunci keuntungan pada posisi emasnya yang telah melewati level rekor $2.000 per ons.

Saham-saham emiten tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat pada penutupan perdagangan sesi I. Saham dengan penguatan harga paling kencang yakni emiten tambang emas PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).

Data BEI mencatat, saham PSAB meroket 28,96% di level Rp 236/saham dengan nilai transaksi Rp 75,07 miliar dengan volume perdagangan 332,98 juta saham.

Berikutnya saham PT Wilton Makmur Indonesia Tbk (SQMI) atau dulu bernama Renuka Coalindo naik 8,20% di level Rp 198/saham.

Saham tambang emas BUMN, PT Antam Tbk (ANTM) juga menguat tapi tipis 2,19% di level Rp 700/saham. Sementara saham emiten perdagangan emas PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) stagnan di level Rp 236/saham.

Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) milik Grup Saratoga naik tipis 1,86% di posisi Rp 1.640/saham.

Permintaan yang tinggi untuk logam emas menjadi salah satu faktor dalam kinerja saham-saham emas, baik merupakan penambang maupun sebagai trader.

Pada pukul 13.46 WIB, harga emas berjangka kian turun 1,58% di $1.998,20 per ons menurut data Investing.com dan XAU/USD juga turun 1,44% di $1.998,45. Sedangkan indeks dolar AS naik 0,12% di 93,683.

Dilansir Reuters Selasa (11/08) petang, dolar AS kembali menguat didorong harapan investor terhadap kesepakatan stimulus di Washington antara Partai Demokrat dan pemerintahan Trump.

Cina pada Senin kemarin memberlakukan sanksi terhadap 11 warga AS, termasuk anggota parlemen dari Partai Republik Presiden Donald Trump menanggapi sanksi Washington atas para pejabat Hong Kong dan Cina pekan lalu.

Analis mengatakan daya tarik keseluruhan emas masih utuh dengan harga komoditas ini telah naik lebih 33% sepanjang tahun ini.

Logam ini telah menjadi salah satu aset yang paling konsisten bergerak naik selama enam bulan gejolak pasar keuangan akibat covid-19. Logam kuning ini mendapat dorongan dari banjirnya arus modal ke dalam perekonomian dunia dan investor mencari tempat yang relatif aman untuk memarkir uangnya di lingkungan suku bunga mendekati nol.