
UPAYA DEDOLARISASI DITENGAH PANASNYA CHINA-AS. China merasa perlu melepaskan diri dari dolar sebagai bentuk antisipasi jika kelak aksesnya pada dolar dibatasi oleh AS.
UPAYA DEDOLARISASI
Upaya dedolarisasi atau “buang dolar” itu dilakukan China di tengah memanasnya hubungan negara itu dengan Amerika Serikat (AS). Kedua ekonomi terbesar di dunia itu telah terlibat perselisihan sengit dalam berbagai hal selama beberapa tahun terakhir, dan China merasa perlu melepaskan diri dari dolar sebagai bentuk antisipasi jika kelak aksesnya pada dolar dibatasi oleh AS.
China telah mulai meningkatkan penggunaan yuan untuk transaksi bilateral dengan banyak negara di Asia, mulai dari Kamboja hingga Vietnam.Distributor komputer Kamboja, Yako Technology, minggu ini melakukan transaksi valuta asing langsung pertama antara riel dan yuan melalui Bank of China Hong Kong di Phnom Penh.
Uang itu ditransfer ke akun eksportir Yako di China, di mana penyelesaiannya dilakukan melalui Bank of China Hong Kong di Guangxi, wilayah otonom di China selatan.
Di masa lalu, pelanggan Kamboja harus menukar riel menjadi dolar AS sebelum menukarnya menjadi yuan.
Guangxi, yang berbatasan dengan Vietnam, adalah gerbang China untuk kerjasama dengan Negara-negara ASEAN, yang merupakan bagian penting dari Inisiatif Belt & Road.
Total penyelesaian yuan lintas batas di kawasan itu melebihi 1 triliun yuan (US$ 142 miliar) pada Agustus di 2019.
Aplikasi pembayaran terbesar di Cina WeChat Pay dan Alipay juga telah membuat terobosan di Kamboja. Sehingga memudahkan wisatawan China untuk menghabiskan uang di negara itu.
Tetapi pakar pengiriman uang global George Harrap, yang telah bekerja dengan perusahaan-perusahaan di Kamboja, percaya masih ada tantangan bagi yuan dapat digunakan secara lumrah di Asia Tenggara.
Di Kamboja, misalnya, yang sangat bergantung pada bantuan dan investasi China, dolar AS tetap menjadi alat pembayaran yang sah untuk melakukan bisnis lokal dan transaksi sehari-hari. Riel telah dipatok terhadap dolar AS sejak 1990-an.
Program Pinjaman Belt & Road
China terus meningkatkan upaya untuk membuat penggunaan mata uangnya, yuan, di kancah internasional menjadi semakin lumrah dilakukan. Salah satu upaya yang ditempuh untuk mewujudkan cita-cita tersebut adalah melalui program pinjaman Belt & Road-nya, sebagaimana dikatakan para pakar.
Saat ini penggunaan yuan dalam perdagangan global terbatas dan cakupannya dari cadangan mata uang masih di bawah 2%. Pangsa cadangan mata uang yuan itu hampir tidak berubah sejak menjadi mata uang cadangan dunia pada tahun 2016, menurut Dana Moneter Internasional (IMF).
Sementara Dolar Amerika Serikat (AS) tetap menjadi mata uang cadangan dominan dunia. Mencakup 60,8% dari cadangan yang dialokasikan pada kuartal terakhir tahun 2019.
Di sisi lain, penggunaan internasional yuan terbatas dibandingkan dengan dolar. Angka terbaru dari sistem Swift menunjukkan bahwa mata uang China hanya menyumbang 1,66% dari transaksi pembayaran internasional pada bulan April dibandingkan dengan 43% untuk dolar AS.
Namun, alasan utama China ingin memperkukuh penggunaan mata uangnya bukanlah karena kalah dalam hal-hal tersebut dibandingkan dolar AS. Alasan utama yang mendasari langkah tersebut adalah karena China ingin mengurangi ketergantungannya pada dolar.
sumber : cnbc






