Yen Kian Berjaya Di Tengah Konflik Perang Dagang AS-China Yang Semakin Bergejolak

Yen Kian Berjaya Di Tengah Konflik Perang Dagang AS-China Yang Semakin Bergejolak

Pada perdagangan pasar valuta asing hari Selasa, 06 Agustus 2019 mata uang Yen Jepang (JPY) kembali mengalami penguatan terhadap  dolar Amerika Serikat (USD). Menyandang status sebagai mata uang safe haven, Yen (JPY) mendapat keuntungan dari pembalasan yang dilakukan oleh China terhadap kenaikan tarif impor yang diberikan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Hal ini memicu kekhawatiran akan semakin membesarnya perang dagang dari kedua negara yang membuat investor mengalihkan investasinya ke aset aman atau safe haven.

Pada pukul 7:22 WIB, Yen (JPY) di perdagangan di kisaran level 105,68/US$ atau menguat sebesar 0,25% di pasar spot, melansir data Refinitiv, dan sudah menguat selamat empat hari berturut-turut dengan total penguatan sebesar 2,84%.

Yen (JPY) mulai menguat sejak perdagangan di hari Kamis, 01 Agustus 2019 setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menaikkan tarif impor sebesar 10% terhadap produk China yang selama ini belum dikenakan tarif sama sekali. Total nilai dari produk tersebut sebesar US$ 300 miliar dan tarif impor mulai berlaku pada bulan September mendatang.

Langkah yang diambil oleh Donald Trump tersebut membuat China bergejolak, lalu memberikan balasan yang telak. Bank sentral China (People’s Bank of China/PBoC) pada hari ini menargetkan nilai tukar Yuan (CNY) 6,9225/US$ atau yang terlemah sejak bulan Desember 2018, setelahnya mekanisme pasar membuat Yuan (CNY) terus melemah diperdagangkan di kisaran level 7,0470/US$.

“Saya pikir ini jelas balasan di mana pada masa lalu (perang dagang sebelumnya) China menahan diri untuk tidak melakukan hal tersebut (melemahkan mata uang)” ujar Claudio Piron, Bank of America Merrill Lynch Global Research, sebagaimana dikutip dari CNBC International.

Pelemahan nilai tukar mata uang dimaksudkan agar China memiliki keunggulan yang kompetitif di perdagangan internasional. Produk-produk dari China akan menjadi lebih murah jika Yuan (CNY) melemah, sehingga permintaanpun berpotensi meningkat, dan tingkat ekspor China akan naik.

Akibat kebijakan dari PBoC tersebut, Departemen Keuangan Amerika Serikat menetapkan China sebagai manipulator mata uang. Penetapan negara sebagai manipulator mata uang sebelumnya tidak pernah ada sejak Amerika Serikat berada di bawah pemerintahan Bill Clinton.

“Menteri Mnuchin, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump hari ini telah menetapkan China sebagai Manipulator Mata Uang” pernyataan yang dirilis dari Departemen Keuangan Amerika Serikat, sebagaimana dikutip CNBC International.

“Dengan demikian, Menteri Mnuchin akan bekerjasama dengan Dana Moneter International (IMF) untuk menghilangkan keunggulan kompetitif yang tidak adil yang diciptakan oleh China melalui kebijakan terbarunya”

Sampai saat ini belum ada respon apapun dari China terkait ditetapkannya Negeri Tirai Bambu ini sebagai manipulator mata uang, akan tetapi jika Pemerintah Beijing kembali membalas kebijakan yang dikeluarkan oleh Amerika Serikat, maka perang dagang bisa semakin tereskalasi, dan Yen (JPY) pun akan semakin diuntungkan.

CARA DAFTAR AKUN DEMO TRADING DI DIDIMAX

didimaxforex.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *