
Nilai tukar Yen Jepang yang terus meningkat, akan menduduki level psikologis 100 terhadap mata uang dolar AS. Hal ini semakin memberi tekanan pada Bank Sentral Jepang (BoJ) untuk memotong suku bunga.
Berdasarkan data dari Bloomberg, nilai tukar yen terlihat melonjak 3,03 poin atau sekitar 2,88% ke level 102,32 yen per dolar AS, pada market hari senin kemarin sekitar pukul 14.14.
Namun sebaliknya pada indeks dolar AS. Justru indeks dolar AS yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, melanjutkan pelemahannya untuk hari ketiga.
Nilai tukar yen bergerak di level 101,53 – 104,67 per dolar AS sepanjang perdagangan. Sebagai aset investasi, daya tarik yen Jepang semakin menanjak ditengah anjloknya harga minyak mentah dan meluasnya wabah penyakit virus corona (Covid-19).
Banyak analisis yang berpikir bahwa pemerintah Jepang tidak berpangku tangan setelah nilai tukar yen menyentuh level terkuatnya sejak tahun 2016 pada perdegangan hari ini.
Takenobu Nakashima, senior rates strategist Nomura Securities Co mengatakan bahwa penguatan yen terhadap dolar AS dibawah level 100 adalah suatu hal yang harus diperhatikan untuk Bank Sentral Jepang bertindak. Dilansir dari Bloomberg, Ia juga berkata bahwa jika dalam hal koordinasi global, apakah Bank Sentral Eropa memutuskan akan lebih lanjut memotong tingkat negatifnya pekan ini akan menjadi poin penting untuk keputusan Bank Sentral Jepang.
Bank Sentral Jepang dijadwalkan akan mengadakan pertemuan untuk kebijakan minggu depan, tepat setelah Bank Sentral AS Federal Reserve yang diantisipasi luas akan memotong suku bunga yang kedua kalinya untuk bulan ini. Para investor juga akan mencermati pertemuan kebijakan terjadwal Bank Sentral Eropa pada minggu ini.
Terakhir kali yen diperdagangkan dibawah level 100 terhadap dolar AS adalah Agustus 2016, beberapa bulan setelah Bank Sentral Jepang memperkenalkan kebijakan suku bunga negatif.
Menurut survey Bloomberg, mayoritas ekonom memperkirakan Bank Sentral Jepang akan meningkatkan stimulus dalam pertemuan kebijakan bulan ini sekaligus mempertahankan suku bunga negatifnya. Meski demikian, perdagang pastinya akan mencermati segala intervensi verbal dan adanya kemungkinan suku bunga yang turun.
Di sisi lain, tetap ada keraguan tentang efektivitas penurunan suku bunga negatif oleh Bank Sentral Jepang sebesar 10 basis poin, yang kemungkinan akan menjadi opsi jika suku bunga akan dipotong.
Naomi Muguruma, ekonom pasar senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, mengatakan bahwa jika Bank Sentral Jepang tidak percaya diri tentang menghentikan apresiasi yen, tindakan yang tak terencana dapat menarik penguatan yen lebih jauh.



