Harga Emas Akan Bergerak Fluktuatif Akibat Virus Corona

Harga Emas Akan Bergerak Fluktuatif Akibat Virus Corona

Indeks saham utama Amerika Serikat terus melonjak dari hijau ke merah pada hari Jumat lalu karena emas berjuang untuk mempertahankan kenaikan hariannya dengan harga komoditas emas yang tersisa di bawah kisaran level harga USD 1.500 per ons. Emas berjangka comex terakhir untuk pengiriman bulan April juga akan ditutup pada kisaran level harga USD 1,494.00 minggu ini.

Ketidakpastian pasar masih akan terus berlanjut hingga minggu depan karena wabah COVID-19 atau virus corona terus menyebar di Amerika Serikat dan Eropa, yang menyebabkan banyak bisnis yang tutup dan mengganggu perekonomian lokal.

Baru-baru ini, Gubernur California, Gavin Newsom mengeluarkan kebijakan untuk tinggal di rumah dan secara efektif berlaku mulai Kamis malam.

Lalu, pada hari Jumat, Gubernur New York, Andrew Cuomo memerintahkan semua bisnis yang tidak penting untuk dikerjakan dari rumah sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus corona.

Kepala Ekonom Internasional ING, James Knightley menyebutkan akibat dari kebijakan tersebut adalah data pengangguran awal minggu lalu melonjak hingga 70 ribu atau sekitar 33 persen menjadi 281 ribu.

EDUKASI TRADING FOREX GRATIS

“Namun diperkirakan lonjakan yang lebih besar kemungkinan akan terjadi minggu depan,” katanya.

Situasi tersebut ternyata berdampak pada harga emas. Karena emas merupakan investasi yang aman dan dapat diandalkan selama masa-masa sulit seperti ini.

Ahli strategi komoditas TD Securities, Daniel Ghali melihat level USD 1.440 pada sisi negatifnya dan USD 1.515 per ons pada terbalik untuk minggu depan untuk emas berjangka.

Selama beberapa minggu terakhir, ada lonjakan besar-besaran dalam permintaan Dolar Amerika Serikat, dan terlihat banyak investor yang menjual emas. Menurut Ghali, hal tersebut disebabkan oleh perusahaan-perusahaan yang perlu mengamankan kas mereka untuk membayar karyawan.

Meskipun demikian, banyak yang analis tetap netral terhadap harga emas untuk sementara waktu. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pilihan untuk menguangkannya masih berlanjut untuk dipertimbangkan.

“Tidak dapat diketahui siapa pun mengambil posisi besar dalam situasi sekarang. Cash (uang tunai) adalah raja dan akan tetap seperti itu, ” ujar kepala analisis pasar untuk EMEA dan kawasan Asia untuk INTL FCStone, Rhona O’Connell.

https://www.youtube.com/watch?v=r4FpLfUAzq4

Menurut O’Connell, setiap pembalikan arah dalam saham atau pasar lain cenderung membuktikan kecenderungannya hanya sementara.

“Semuanya yang berbalik arah, umumnya berlangsung sangat sebentar. Penggerak utama dalam pasar adalah tergantung pada apa yang terjadi dengan rangsangan fiskalnya ” ujarnya kepada Kitco News, Jumat (20/3/2020).

Menurutnya, ketidakpastian terkait dengan wabah COVID-19 akan tetap mempengaruhi pergerakan pasar utama pada minggu depan, sebab itu bukanlah krisis buatan manusia seperti yang terjadi pada tahun 2008 lalu, sehingga sulit untuk dipastikan.

“Banyak orang harus menguangkannya. Karena ini memang sudah menjadi mekanisme untuk mengumpulkan uang,” ujar O’Connell.

“Setelah semuanya kembali pada jalur yang stabil, akan ada penyeimbangan kembali dan lebih banyak minat masuk ke dalamnya,” imbuhnya.

Kepala Blue Line Futures, Phillip Streible mengungkapkan, kisaran level harga USD 1.500 tetap akan menjadi titik kritis untuk emas minggu depan.

Emas akan mengalami kesulitan untuk bergerak naik, karena banyaknya investor yang dipaksa untuk menjual logam demi mengumpulkan uang tunai untuk menutupi kerugian selama virus corona masih terus menyebar.

Edukasi dan Bimbingan Trading Forex di Didimax

 

 

 

 

Sumber : Liputan6

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *