ARAB PANGKAS PRODUKSI , HARGA MINYAK MEROKET

ARAB PANGKAS PRODUKSI , HARGA MINYAK MEROKET

Harga minyak meroket pada perdagangan hari ini setelah Arab Saudi mengumumkan akan segera memangkas produksi minyaknya. Rencananya, mulai 1 Juni mendatang, Arab Saudi akan menurunkan produksi minyaknya dengan tambahan 1 juta barel per hari sebagai upaya mendukung pasar minyak global.

PEMANGKASAN PRODUKSI

Pemerintah Arab Saudi meminta BUMN minyak negara itu, Saudi Aramco untuk mengurangi produksi minyak. Bahkan hingga 1 juta barel per hari (bph). Ini dilakukan untuk mendukung harga minyak yang jatuh. Menyebarnya corona (COVID-19) membuat pasokan minyak banjir di pasaran.

Bukan hanya Arab Saudi, Kuwait juga akan memangkas lagi produksi minyaknya sebanyak 80 ribu bph. Ini inisiatif negara itu untuk mendukung saudi. Hal senada juga akan dilakukan Uni Emirat Arab. Di mana UEA akan memangkas produksi 100 ribu bph pada Juni.

Sebelumnya OPEC+ memang sepakat memangkas produksi minyak 9,7 juta bph. Produsen lain juga akan mengurangi 3,7 juta bph. Di bawah perjanjian itu, produksi minyak Arab Saudi akan menjadi 8,5 juta bph. Terendah dalam satu dekade terakhir.

Hal ini membuat total potongan produksi minyak Arab Saudi sekitar 4,8 juta barel per hari atau turun hampir 40% dari produksi April. Sehingga, produksi untuk Juni mendatang akan menjadi 7,492 juta barel saja per hari.

Untuk diketahui, saat ini harga Brent LCOc1 berjangka tercatat naik ke level tertinggi US$ 30,11 per barel atau naik 0,8% setara 24 sen dari posisi sebelumnya US$ 29,87. Nilai tersebut membalikkan beberapa kerugian yang terjadi sebelumnya. Sedangkan, harga benchmark turun $ 1,34. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS CLc1 berjangka juga naik 1,6% atau diperdagangkan 38 sen menjadi US$ 24,52.

Pengurangan produksi minyak Arab Saudi ini memberikan optik yang sangat baik dalam mendorong anggota OPEC+ lainnya untuk mematuhi dan bahkan menawarkan pemotongan sukarela tambahan yang akan mempercepat tindakan penyeimbangan kembali pasar minyak global.

Selain dipicu oleh upaya memangkas produksi minyak tersebut, harga minyak dunia naik juga didukung dengan upaya pemulihan ekonomi yang kini mulai diterapkan di beberapa negara dengan melonggarkan pembatasan sosial mereka.

Hal itu kembali meningkatkan secara bertahap permintaan akan bahan bakar dan sinyal ini diprediksi akan mengurangi tekanan pada kapasitas penyimpanan minyak mentah. Namun, di sisi lain kekhawatiran akan gelombang kedua pandemi Corona juga muncul, membuat prediksi itu lemah.

Sumber : cnbcindonesia.com

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *