Pada perdagangan pasar valuta asing sesi kawasan Asia hari Senin pagi, nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) bertahan mendekati level tertinggi dalam beberapa minggu. Penguatan ini terjadi di tengah optimisme hati-hati bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok akan menurunkan tarif impor yang telah mengganggu pertumbuhan global.
Pada hari Senin, 11 November 2019, terhadap Dolar Australia (AUD), greenback berdiri tepat di bawah level tertinggi dua minggu di kisaran 0,6857 Dolar Amerika Serikat (USD). Terhadap Dolar Selandia Baru (NZD), Dolar Amerika Serikat (USD) hampir mencapai level tertinggi sebulan di kisaran 0,6336 Dolar Amerika Serikat (USD), dan juga terhadap sekeranjang mata uang berada pada level 98,358.
Penguatan tipis ini terjadi dikarenakan para pelaku pasar terus mewaspadai adanya berita lebih lanjut tentang perang dagang Amerika Serikat-China. Pejabat dari kedua negara mengatakan pada akhir pekan lalu bahwa penurunan beberapa tarif balasan telah disepakati.
Namun ternyata hal tersebut kemudian dibantah oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pada hari Jumat lalu, ia tidak sepenuhnya mengesampingkan kesepakatan dan imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat yang dijadikan sebagai acuan untuk mendukung mata uang.
“Dia membiarkan pintu terbuka untuk beberapa penurunan (tarif),” ujar Rodrigo Catril, ahli strategi senior valas di National Australia Bank di Sydney.
“Pasar telah melekat pada gagasan bahwa pasti ada beberapa prospek yang akan dilakukan. Semua orang tampak memperhitungkan perbaikan dalam prospek pertumbuhan global,” tambahnya, menunjukkan bahwa peningkatan di masa depan secara lebih lanjut didukung oleh musim laporan keuangan yang sama sekali positif dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.
Dolar Amerika Serikat (USD) sedikit melemah terhadap Euro (EUR) dan Yen Jepang (JPY), mencerminkan bahwa beberapa investor yang berhati-hati bahwa kesepakatan masih bisa melonggar lagi. Greenback berada di kisaran di 1,1020 per Euro (EUR) dan di 109,23 Yen Jepang (JPY). Sedangkan Yuan Tiongkok (CNY) sedikit lebih lemah, tetapi masih di sisi tertinggi 7-per dolar pada kisaran 6,9892 di perdagangan luar negeri.
https://www.youtube.com/watch?v=zJlMT2e2m5A
“Dunia ingin menjadi risiko jangka panjang dan volatilitas jangka pendek dalam setiap pertemuan yang akan datang antara Donald Trump dan (Presiden Tiongkok) Xi Jin Ping, tetapi apakah mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan?” ujar Chris Weston, ahli strategi di pialang Melbourne Pepperstone.
Amerika Serikat saat ini sedang merayakan hari libur Hari Veteran. Oleh karena itu, fokus investor kemungkinan akan tertuju pada berita utama, data ekonomi Inggris yang akan dirilis pada hari Senin, serta pertemuan penetapan suku bunga bank sentral Selandia Baru (RBNZ) pada minggu ini.
Ekonomi Inggris telah kehilangan momentum pada tahun ini, dirugikan oleh penurunan global akibat perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, serta meningkatnya ketidakpastian tentang keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) atau Brexit.
Sementara itu Poundsterling Inggris (GBP), yang nasibnya sekarang terkait erat dengan hasil pemilihan yang ditetapkan untuk tanggal 12 Desember, naik tipis menjadi 1,2795 Dolar Amerika Serikat (USD) di perdagangan Asia.
“Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa kepemimpinan partai Konservatif semakin meluas,” ujar analis Commonwealth Bank of Australia Jos Capurso dalam sebuah catatan.
didimaxforex.com







