Indeks dolar AS tergelincir pada akhir perdagangan kemarin. Dolar melemah karena risiko covid-19 meningkat di tengah pelonggaran lockdown di negara-negara besar. Kebijakan ini mengurangi permintaan untuk mata uang safe-haven.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,74% pada 99,6627, dilansir dari Xinhua, Selasa (19/5/2020)
Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,0913 dari USD1,0813 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2194 dari USD1,2118 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,6515 dari USD0,6417.
Dolar AS membeli 107,40 yen Jepang, lebih tinggi dari 107,30 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,9727 franc Swiss dari 0,9722 franc Swiss, dan jatuh ke 1,3961 dolar Kanada dari 1,4108 dolar Kanada.
Pasca meredanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, kini Negara-Negara di Dunia sedang menghadapi musuh bersama lainnya yaitu pandemi Covid-19.
Pandemi Covid-19 sudah menelan banyak korban, menciptakan disrupsi pada perekonomian Dunia, mengancam ketahanan pangan global, menurunkan arus investasi hingga menurunkan tingkat konsumsi karena melemahnya daya beli masyarakat.
https://www.youtube.com/watch?v=nfOIOOAUTfI
Tak hanya itu saja, pemerintah juga harus berkomitmen untuk menghindari larangan ekspor komoditas penting, misalnya saja peralatan medis, yang akan memperburuk ketersediaan barang secara global. Larangan ekspor juga akan mengganggu rantai pasok manufaktur global, kemudian birokrasi pada Bea Cukai juga harus ditinjau untuk memastikan barang melintasi perbatasan secepat mungkin.
Selain itu, upaya-upaya untuk berinovasi sangat penting untuk menemukan solusi jangka panjang bagi penyakit yang baru teridentifikasi seperti Covid-19, misalnya saja penemuan teknik perawatan baru dan vaksin. Tak hanya sebatas menemukan, inovasi juga diharapkan bisa menemukan cara bagaimana teknik perawatan bisa diterapkan dan vaksin dapat diproduksi secara massal dan dapat diedarkan ke seluruh Dunia.
Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta menyebutkan Negara-Negara di Dunia tidak terkecuali Indonesia perlu berkomitmen serius untuk meninggalkan Kebijakan Proteksionisme dan memastikan Perdagangan antar Negara bisa tetap berjalan.
Disamping itu, para Negara di dunia juga harus menghindari penghapusan hak kekayaan intelektual secara pre-emptif dari vaksin atau perawatan baru yang muncul. Diharapkan akan semakin banyak perusahaan dari seluruh Dunia untuk bergabung dalam upaya menemukan perawatan dan vaksin baru. Hak kekayaan intelektual sangat penting untuk mendukung peningkatan skala produksi massal yang terkoordinasi dan distribusi global.
“Krisis hanya akan diselesaikan dan ekonomi hanya akan pulih, jika Negara diizinkan untuk berdagang dan berkolaborasi secara bebas satu sama lain. Perdagangan yang terintegrasi satu sama lain tentu akan membantu mempercepat pemulihan ekonomi,” tegasnya.
Adapun pada saat Negara-Negara anggota World Health Organization (WHO) berkumpul untuk World Health Assembly atau Majelis Kesehatan Dunia, sebuah koalisi global dari 31 think tank bersatu untuk mendorong pemerintah agar berkomitmen membuka Perdagangan, kolaborasi dan inovasi dalam perang melawan Covid-19.
sumber: economy.okezone.com & akurat.co







