Dolar AS Melemah Tipis Ditengah Indikasi Proyeksi Suram Fed

Dolar Amerika Serikat beranjak melemah pada Kamis (27/08) pagi. Hal ini terjadi lantaran pasar mencari petunjuk dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell bahwa bank sentral AS kemungkinan mengubah kerangka kebijakannya untuk membantu mendorong inflasi.

Pukul 09.22 WIB, indeks dolar AS melemah tipis 0,08% di 92,918 menurut data Investing.com. EUR/USD naik tipis 0,02% di 1,1832 dan GBP/USD turun 0,08% di 1,3198. USD/JPY naik 0,05% ke 106,04.

Adapun rupiah kembali bergerak turun 0,20% ke 14.700,0 per dolar AS hingga pukul 09.23 WIB.

Mengutip laporan yang dilansir Reuters Kamis (27/08) pagi, Powell akan menyampaikan pidatonya di konferensi tahunan bank sentral Fed hari ini. Acara ini biasanya diselenggarakan di Jackson Hole, Wyoming, tetapi tahun ini melalui siaran virtual karena pandemi covid-19.

Investor memperkirakan bank sentral AS akan memperkenalkan kerangka kebijakan baru untuk melawan inflasi yang terus-menerus rendah kemungkinan pada awal bulan depan.

Dari Jepang, fokus utama untuk yen adalah konferensi pers Perdana Menteri Shinzo Abe yang dijadwalkan pada hari Jumat di tengah meningkatnya spekulasi atas kondisi kesehatannya.

Lebih lanjut, pasar juga menyoroti hubungan bilateral yang memanas antara AS-Cina pasca kedua pejabat negara menegaskan kembali komitmennya terhadap kesepakatan perdagangan Tahap 1 awal pekan ini.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi melemah tipis dalam perdagangan hari ini. Namun proyeksi ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia serta penguatan cadangan devisa RI diprediksi membuat kurs rupiah melemah namun tipis.
Mengutip data Ipotnews, Kamis (11/6) pukul 09.25 WIB, kurs rupiah diperdagangkan pada level Rp 13.850 per dolar AS. Posisi ini menguat 70 poin dibandingkan penutupan perdagangan pasar uang pada Rabu sore (10/6) di level Rp 13.920 per dolar AS.
Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan bahwa pelaku pasar masih mencermati rilis proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Bank Dunia kemarin mengeluarkan proyeksi dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan hanya sekitar 0% dan proyeksi pertumbuhan global diperkirakan sekitar -5,2% pada tahun.
“Ini membuat risk averse sentiment. Sehingga untuk perkembangan rupiah dalam jangka pendek ini masih akan dipengaruhi oleh keputusan The Fed tadi malam,” kata Josua dalam keterangan resmi, Kamis (11/6).
Di sisi lain, Josua meyakini perkembangan kasus COVID domestik juga masih akan berpengaruh terhadap sentimen di pasar keuangan. Menurutnya, pengumuman jumlah kasus COVID-19 per hari ini tidak mempengaruhi pelemahan di pasar keuangan domestik, mengingat kasus COVID baru di Indonesia diumumkan setelah penutupan pasar keuangan.
Namun mempertimbangkan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil serta ditopang oleh peningkatan cadangan devisa, maka potensi capital flight dari pasar keuangan domestik kedepannya diperkirakan akan cenderung terbatas.
“Kami perkirakan kurs rupiah diperkirakan akan berada di rentang Rp 14.000 – Rp 14.125 per dolar AS,” tutup Josua.
Sebagaimana diketahui, Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia pada 2020 tidak akan mengalami pertumbuhan atau 0% akibat dihantam dampak pandemi virus Corona (Covid-19). Prediksi tersebut terjun bebas dari realisasi pertumbuhan ekonomi RI pada 2019 (yoy) sebesar 5,02 persen. Walau demikian, produk domestik bruto (PDB) Indonesia diprediksi bakal menanjak ke level 4,8% pada 2021.
Informasi tersebut tercantum dalam laporan bertajuk ‘Global Economic Prospects’ edisi Juni 2020. Bank Dunia menyebutkan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang Asia Timur dan Pasifik pada 2020 diproyeksikan akan melambat menjadi 2,1% untuk skenario baseline dan negatif 0,5% dalam skenario lebih rendah.
Sementara tadi malam, Bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan. Dalam pertemuan Federal Open Market Committee ( FOMC ) yang digelar pada 9-10 Juni 2020, The Fed memutuskan untuk menjaga kisaran target suku bunga acuan alias fed fund rate (FFR) sebesar 0% hingga 0,25%.
Keputusan tersebut mempertimbangkan krisis kesehatan masyarakat yang tengah berlangsung yang akan membebani aktivitas ekonomi, lapangan kerja, dan inflasi dalam waktu dekat, serta menimbulkan risiko yang besar terhadap prospek ekonomi dalam jangka menengah.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *