Dolar AS Terus Tertekan vs Euro Diincar Para Investor

Nilai tukar mata uang setiap negara maju sebelum kasus Covid-19 tampak stabil kini dapat berubah drastis setiap waktu. Bahkan kasus tersebut mempengaruhi para investor untuk menanamkan sahamnya pada mata uang suatu negara. Karena hal ini akhirnya belum ada mata uang yang tampak stabil semenjak terjadinya covid-19 tersebut.

Dorongan-dorongan yang besar dilakukan demi menambah kenaikan nilai mata uang ini. Apakah keadaan ini akan terus berlanjut sampai pada akhir tahun 2020 ini lah yang masih menjadi tanda tanya besar dalam dunia perdagangan internasional. Bahkan banyak kabar mengenai dolar AS ini yang simpang siur dan mengagetkan.

Dari data manufaktur AS terlihat bahwa ada peningkatan besar pada bulan Agustus yang dirilis Selasa, 01 September 2020 oleh ISM. Peningkatan dari 54.2 dan melaju ke level 56 ternyata melewati ekspektasi. Data tersebut membantu mengembalikan para pengusaha untuk bekerja pada bidang yang sudah dibuka.

Dolar AS Terus Tertekan vs Euro yang Kini Mulai Diincar Para Investor

Hal ini terjadi sejak pasca kebijakan pembatasan sosial di Amerika Serikat. Akan tetapi kejadian ini terlihat kurang merata di beberapa bidang manufaktur. Kondisi ini diakibatkan oleh pandemic Covid-19 yang sudah mengubah bentuk pengeluaran pembelanjaan. Dari semula kebutuhan industri jasa kini berubah menjadi elektronik rumah tangga.

Penekanan dolar AS yang diperdagangkan pada indeks 92.10 mulai tergelincir 0.07% dari adanya harga pembukaan. Sedangkan mata uang Euro mulai naik pada level tertinggi yang dimulai bulan Mei 2018 berkisar 1.1947. Digadang-gadang bahwa mata uang Euro akan menjadi mata uang primadona sampai beberapa tahun ke depan.

Tentu hal tersebut membuat pemerintah AS khawatir meskipun sudah melakukan yang terbaik untuk meningkat keadaan ekonomi di perdagangan internasional. Sebagaimana siklus depresiasi dolar AS yang sudah jatuh sekitar 15 sampai 20 persen. Keadaan sudah terbalik dan harus segera diperbaiki.

Kondisi Akan Memburuk Jika Terus Bergantung Pada Dolar AS

Jika selama ini para investor sangat bergantung pada nilai tukar dolar AS, ternyata belakangan menjadi berita kontroversial. Penyebabnya adalah karena beberapa negara mulai melepaskan diri untuk tidak bergantung pada dolar AS. Beberapa investor pun melakukan hal yang sama yaitu menarik kebergantungan pada dolar AS ini.

Menurut seorang tokoh ekonom mengatakan bahwa adanya ketergantungan yang tinggi dapat mendorong peningkatan votalitas dari sejumlah mata uang negara berkembang seperti Indonesia yaitu Rupiah. Melihat hal ini penggunaan mata uang lokal pada setiap perjanjian mampu mengurangi efek volatilitas.

Selain itu, tokoh ekonom lainnya menyebutkan bahwa dampak buruk lainnya adalah terjadinya pelemahan bagi fundamental ekonomi nasional dalam jangka yang panjang. Akibat kasus covid-19 kurs dolar yang merosot membuat biaya impor bahan baku juga menurun pada beberapa negara berkembang.

Bagi negara Indonesia sendiri, adanya ketergantungan dengan dolar AS lainnya dapat menghilangkan potensi kerja sama ekonomi dengan negara lain yang tidak menggunakan dolar AS sebagai transaksi perjanjian tersebut. Akhirnya keadaan nilai mata uang dolar AS semakin tidak stabil setiap hari tanpa mengenal waktu.

Beberapa negara mungkin merasakan dampak positif dari kejadian ini, tapi bagi negara Amerika Serikat tentu saja menjadi hal yang sangat menyulitkan bagi pemerintah untuk mengembalikan keadaan tersebut seperti semula. Dengan berbagai cara dan dorongan-dorongan dari berbagai bidang yang ada.

Keinginan untuk segera bisa mengembalikan kestabilan ekonomi dolar AS semakin hari semakin meningkat. Sehingga diharapkan agar beberapa waktu kedepan bisa mengalami penguatan dan mengembalikan kepercayaan para investor untuk menanamkan saham pada dolar AS seperti semula sebelum adanya covid-19.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *