EMAS LEBIH DIBURU KETIMBANG DOLAR AS

JAKARTA. Di tengah ancaman resesi yang menghantui, telah mulai terjadi pergeseran dalam berinvestasi. Setidaknya itulah yang terjadi saat ini berdasar pengamatan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara.

Secara umum, Bhima menilai setiap terjadi krisis, para investor akan melakukan aksi lindung nilai dengan beralih ke aset safe haven. Namun, pada krisis kali ini terjadi pergeseran pola para investor dalam memilih aset safe haven. Umumnya, dolar Amerika Serikat (AS) jadi pilihan utama, namun saat ini emas justru jadi primadona safe haven.

“Peralihan dari dolar AS ke emas ini sebenarnya disebabkan oleh episentrum permasalahan pandemi ada di Amerika Serikat (AS). Belum lagi, AS juga menjadi negara dengan kontraksi pertumbuhan yang cukup dalam saat ini, sehingga fundamental dolar AS pun jadi kurang baik,” kata Bhima kepada Kontan.co.id, Jumat (7/8).

Bhima melihat, prospek investasi ke depan masih akan prospektif, terlebih mulai muncul kekhawatiran bahwa akan terjadi depresi, yakni resesi yang berkelanjutan selama setahun atau dua tahun. Emas pun menjadi instrumen paling menarik saat ini, ketimbang aset safe haven lainnya seperti dolar AS, SBN, ataupun deposito.

Asal tahu saja, merujuk Bloomberg, harga emas spot saat ini berada di level US$ 2.035,55 per ons troi. Emas spot dari segi return, secara year to date (ytd) sudah mencapai 34,16%. Sementara emas batangan keluaran PT Aneka Tambang Tbk sudah berada di level Rp 1.055.000 per gram atau naik 36,83% secara ytd.

“Namun, jangan sampai investasi emasnya terlalu dominan, bagaimanapun ada selisih antara harga jual dan beli untuk emas. Investor bisa memilih SBN yang return-nya saat ini ada kisaran 7%, jauh lebih menarik ketimbang deposito dan dolar AS yang masih terus fluktuatif,” ujar Bhima.

Ke depan, Bhima menilai, emas keluaran Antam berpeluang menyentuh level Rp 1.500.000 per gram. Sedangkan untuk nilai tukar dolar AS dengan rupiah, ia memperkirakan akan ada di kisaran Rp 14.800 – Rp 15.500 per dolar AS. Ia menilai rupiah tidak akan menembus level Rp 16.000 karena adanya aksi pemerintah yang agresif menerbitkan SBN, global bond, dan burden sharing.

Dengan kondisi ini, Bhima merekomendasikan, para investor bisa menyusun portofolionya dengan porsi 40% emas, 30% SBN, lalu 20% deposito, dan sisanya dolar AS.

sumber:investasi.kontan.co.id

(Visited 6 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *