Harga emas menurun dan semakin ditinggal. Emas di pasar spot kembali melemah pada awal minggu ini. Walaupun bank sentral global berlomba melonggarkan kebijakan moneternya, pasar masih belum tenang. Hal ini membuat logam mulia pun ikut terkena tekanan jual.
Pada hari ini, harga emas di pasar spot melorot 0,32% ke level US$ 1.491/troy ons. Posisi emas saat ini menandai level terendah sejak 24 Desember 2019. Sejak menyentuh level tertingginya dalam tujuh tahun pada 9 Maret lalu, harga emas seolah terjun bebas.
Hingga hari ini, harga emas telah anjlok 11,25% dari level tertingginya sejak 9 Maret. Harga emas menurun dan semakin ditinggal ini diakibatkan oleh virus corona (COVID-19) menjadi alasan kuat aksi jual besar-besaran logam mulia ini.
Berbagai kelonggaran moneter yang serempak dilakukan oleh bank sentral global sudah tidak mampu membuat harga emas kembali naik. Biasanya, suku bunga rendah bagus untuk logam mulia. Namun kini penurunan suku bunga dan suntikan likuiditas belum meyakinkan pasar.
Goldman Sachs memperingatkan kliennya bahwa S&P 500 mungkin akan turun sampai mencapai 2.000. “Virus corona telah menciptakan gangguan finansial dan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kepala strategi ekuitas AS, David Kostin, menulis dalam sebuah catatan.
“Kombinasi likuiditas yang seret, ketidakpastian yang tinggi, dan penentuan posisi dapat menyebabkan S&P 500 jatuh di bawah estimasi 2.450, perkiraan kami akan jatuh lebih dekat ke level 2.000.”
“Emas terus dilikuidasi secara agresif sebagai bentuk rebalancing dan untuk menutup margin call, hal ini mengakibatkan emas mengalami penurunan mingguan terbesar sejak 1983,” tulis ahli strategi komoditas TD Securities, melansir Kitco.
“Aksi jual emas di pasar saat ini mirip dengan apa yang terjadi selama krisis keuangan, ketika harga turun untuk periode lebih dari tiga bulan bersamaan dengan jatuhnya valuasi ekuitas, begitu juga dengan meningkatnya volatilitas dan margin calls memaksa para investor untuk menjual emas guna menyediakan likuiditas” tambahnya, seperti diwartakan Kitco.
“Ada juga kekhawatiran bahwa bank sentral di seluruh dunia mungkin terpaksa menjual beberapa cadangan emas mereka untuk membantu ekonomi mereka di tengah perlambatan ekonomi yang terdampak COVID-19” kata Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group, mengatakan kepada Kitco News.
Setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan wabah COVID-19 sebagai pademi, tekanan jual di berbagai pasar terjadi. Investor lebih memilih cash. Emas yang sudah cuan pun ikut dilikuidasi, memang untuk saat ini emas lebih berperan sebagai aset yang menyediakan likuiditas.
sumber : cnbcindonesia.com





