Berita terbaru tentang forex hari ini – PM Theresa May sedang mempertahankan untuk menjaga posisinya sebagai kepala pemerintahan supaya dia dapat mengakhiri tanggung jawabnya untuk menarik Inggris keluar dari Uni Eropa, tapi hasil akhir dari usahanya berada di tangan rival politik, yaitu Jeremy Corbyn.
Para pejabat senior yang berada di sisi perdana menteri percaya jika satu-satunya harapan realistis agar kesepakatan Brexit dapat lolos pada pemungutan suara di parlemen yaitu jika pemimpin Partai Buruh memutuskan untuk serius menangani isu ini.
Berbeda dengan May, berdasarkan sejumlah sumber, Corbyn kemungkinan tidak begitu terburu-buru untuk mengakhiri Brexit.
Perbincangan antara pejabat Partai Buruh serta Konservatif direncanakan untuk dilanjutkan pada Selasa (23/4/2019) waktu London, usai para anggota Parlemen kembali ke bekerja setelah libur Paskah.
“Jika tidak ada negoisasi yang diraih sebelum pemilihan di Parlemen Eropa di 23 Mei, pengikut perdana menteri khawatir May akan kehilangan peluang untuk menegosiasikan kesepakatan Brexit dan didesak keluar dari Uni Eropa,” kata besejumlah sumber yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, seperti yang dilansir melalui Bloomberg, Selasa.
PM May menerima desakan tidak hanya dari aktivis lokal Partai Konservatif untuk mundur dari jabatannya, beberapa rekannya di parlemen juga ingin agar dia mengundurkan diri.
Beberapa pro-Brexit menyalahkan kegagalan May untuk segera mengakhiri pengunduran diri Inggris dari Uni Eropa serta kecewa atas keputusannya untuk membuka pembicaraan dengan Corbyn untuk mencapai persetujuan lintas partai.
Kondisi kesepakatan lintas-partai ini agak berbahaya bagi May yang mempunyai dua tugas penting yaitu sebagai pemimpin Partai Konservatif dan perdana menteri.
PM May telah berjanji untuk mundur dari jabatan perdana menteri jika kesepakatan tercapai dan memberikan kesempatan bagi pemimpin baru untuk mengambil alih fase kedua dari proses Brexit.
“Perdana Menteri May berniat untuk mengawal Brexit hingga seluruh prosesnya sampai selesai,” kata penasihatnya.
Walaupun demikian, bagi beberapa anggota Partai Konservatif, negosiasi yang ditawarkan May sudah sangat jauh. Apalagi para sekutu perdana menteri berpendapat jika nasib May kini sudah diluar kendalinya.
https://www.youtube.com/watch?v=SQCJwI2dGeg
Sebelumnya Perdana Menteri May cukup beruntung untuk selamat dari satu usaha pelengseran sebagai ketua partai pada Desember tahun lalu.
Menurut aturan partai, pemungutan suara mosi tidak percaya (no confidence voting) serta tidak akan diadakan sampai dengan akhir tahun ini.
Ada laporan jika sejumlah anggota Konservatif sedang memperhitungkan untuk mengubah peraturan tersebut agar voting dapat diadakan lebih cepat.
Kelompok PM May sedang memerinci, sementara lawan politiknya sedang mempersiapkan diri untuk menggeserkan perdana menteri, lawan potensial yang ada di dalam kabinet tidak tertarik untuk mengambil alih jabatan usai setelah Inggris meninggalkan Uni Eropa.
Pada awalnya Inggris dijadwalkan meninggalkan Uni Eropa pada tanggal 29 Maret tapi proses tersebut itu telah ditunda dua kali usai Parlemen berulang kali menolak kesepakatan yang dinegosiasikan oleh PM May.
Menurut kesimpulan dari Komisi Uni Eropa, Brexit akan ditunda sampai dengan 31 Oktober, memperpanjang ketidakpastian politik sampai membuat para pemimpin bisnis kecewa.
Bagi Corbyn, masalah utamanya ialah apakah dia dapat mengamankan referendum lanjutan, di tengah tuntutan dari banyak anggota Partai Buruh yang ingin publik mempunyai kesempatan untuk memilih apakah akan menerima kesepakatan Brexit yang ditawarkan pemerintah.






