Penggunaan Indikator teknikal layaknya makanan pendamping untuk main course, seringkali dikesampingkan oleh trader karena bagi mereka justru membingungkan karena ujung-ujungnya malah memberikan false signal. Yah, sebagian besar hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh ke tidak terampilan dalam memanfaatkan indikator yang sering digunakan trader.
Pivot Point adalah salah satu cara yang banyak digunakan oleh trader untuk menentukan Support dan Resistance pada pergerakan harga. Pivot Point dibuat berdasarkan harga tertinggi (High), harga terendah (Low), dan harga penutupan (Close) pada periode sebelumnya, untuk menghasilkan estimasi level Support dan Resistance pergerakan harga di masa depan.
Sebagaimana diketahui, trading forex memerlukan level-level referensi, yaitu Support dan Resistance yang digunakan untuk menentukan kapan kita mesti entry, serta dimana kita harus menentukan level Stop Loss dan target (Take Profit). Jika Anda perhatikan, level-level Support dan Resistance sangat penting untuk menentukan besarnya resiko dalam trading. Tanpa perhitungan resiko yang benar, besar kemungkinannya Anda akan terkena Margin Call. Sebaliknya, dengan menentukan resiko yang sesuai pada setiap trade, maka dalam jangka panjang hasil trading Anda akan cenderung profitable.
Salah satu alat yang secara nyata membantu dalam menentukan level-level referensi Support dan Resistance yang potensial adalah Pivot Point. Nah, artikel ini menelaah akurasi Pivot serta mencontohkan kombinasi antara Pivot Point dan indikator teknikal yang akan lebih powerful dan lebih efektif dalam trading forex, dibandingkan jika Anda hanya trading menggunakan indikator teknikal saja.
Pivot Point Dalam Trading Forex
Pivot Point pada mulanya digunakan oleh para trader saham dan futures, tetapi sekarang sudah lazim digunakan dalam trading forex, terutama untuk jangka pendek. Yang sering digunakan adalah Pivot Point Harian, yaitu Pivot Point yang dihitung berdasarkan harga penutupan hari sebelumnya. Trader biasanya menggunakan harga penutupan pasar New York sebagai patokan yaitu jam 4:00 p.m EST atau sekitar jam 4:00 pagi WIB.
Berikut ini contoh Pivot Harian dan level-level Support dan Resistance pada GBP/USD 1 jam. Level Pivot, Support dan Resistance tersebut digunakan sebagai referensi trading pada hari tersebut (pada contoh di bawah adalah untuk tanggal 7 July 2020):
Level Pivot dihitung dengan formula:
Pivot = (High hari sebelumnya + Low hari sebelumnya + Close hari sebelumnya) / 3
Sedangkan level-level Support dan Resistance yang diturunkan dari level Pivot, dihitung dengan formula:
Resistance pertama (R1) = (2 x Pivot) – Low hari sebelumnya
Support pertama (S1) = (2 x Pivot) – High hari sebelumnya
Resistance ke-2 (R2) = Pivot + (High hari sebelumnya – Low hari sebelumnya)
Support ke-2 (S2) = Pivot – (High hari sebelumnya – Low hari sebelumnya)
Resistance ke-3 (R3) = High hari sebelumnya + 2 x (Pivot – Low hari sebelumnya)
Support ke-3 (S3) = Low hari sebelumnya – 2 x (High hari sebelumnya – Pivot)
Dalam aktivitas trading, Anda tidak harus menghitung Pivot Point secara manual. Anda dapat memanfaatkan custom indicator untuk memunculkan Pivot Points secara otomatis pada software trading (Metatrader). Atau bila enggan memasang indikator buatan pihak ketiga pada software trading, maka dapat pula menghitung dengan kalkulator Pivot Point yang sudah disediakan oleh Seputarforex.com.






