Pakar Menggambarkan Skenario Terburuk Perang

Pakar Menggambarkan Skenario Terburuk Perang Dagang terhadap Mata Uang Asing

Berita terbaru tentang forex hari ini – Ketika perbincangan perang dagang Amerika Serikat dan China meningkat tanpa rencana dimulainya kembali perundingan, beberapa ahli strategi menggambarkan artinya atas nilai tukar mata uang asing.

Nilai tukar yen Jepang diprediksi akan menguat atas dolar Amerika Serikat, diakibatkan aktivitas penghindaran investor dari aset-aset berisiko. Selain itu, mata uang seperti rand Afrika Selatan dan peso Chili bisa menjadi mata uang yang paling terpengaruh.

“Tampaknya ini menjadi salah satu hal yang paling kurang diperkirakan di pasar, pertanyaan mengenai akibat ketegangan perdagangan dan valuta asing,” ujar Thomas Costerg yang merupakan ahli ekonom di Pictet Wealth Management, seperti dilansir Bloomberg.

Beberapa nilai tukar mata uang di Asia Pasifik sudah terlihat pengaruh dari meluasnya perang perdagangan. Nilai tukar won Korea Selatan telah menurun sekitar 4 persen atas dolar Amerika Serikat, dan dolar Australia menuju level rendahnya pada Januari.

“Korea Selatan dan Taiwan mengalami pelemahan terbesar jika segalanya meningkat,“ kata Richard Franulovich, yang merupakan ahli strategi valas di Westpac, New York.

“Won dan yuan, berserta dengan dolar Taiwan, Australia, dan Kanada, terungkap. Selain itu, nilai tukar euro akan melemah secara dramatis,” tambahnya.

Franulovich menyarankan investor untuk melakukan short pada mata uang tersebut atau mempunyai obligasi sebagai perlindungan.

Walaupun demikian, ia memperhitungkan pandangan persetujuan di pasar bahwa Amerika Serikat dan China pada akhirnya akan mencapai “semacam kesepakatan”.

Tim strategi di Bank of America beranggapan bahwa investor akan mencari aset lindung nilai (safe haven) tanpa terlihatnya kesepakatan perdagangan antara Amerika Serikat dan China dalam waktu dekat.

“Hampir semua ketidakpastian serta risiko berhubungan yang dihadapi pasar pada awal tahun bertahan, dan dalam beberapa kasus justru memburuk,” tulis Athanasios Vamvakidis yang merupakan kepala strategi valas di Bank of America, dalam studinya.

https://www.youtube.com/watch?v=NS0Ll5SXDM4

“Hal tersebut membuat pergerakan valas sangat menantang. Untuk saat ini, kami beranggapan bahwa keadaan bisa menjadi lebih buruk dalam jangka pendek,” lanjutnya.

Zach Pandl yang merupakan kepala strategi valas global di Goldman Sachs, melihat adanya ketegangan perdagangan akan menyebar ke dalam mata uang termasuk euro, rand Afrika Selatan, sertapeso Chili.

“Khususnya Euro, mempunyai risiko penurunan, yang akan bcenderung lebih rendah dalam jangka pendek menjadi level US$1,10 dari level saat ini di sekitar US$1,1164,” ujar Pandl.

Jangan melupakan risiko penyusutan yang dihadapi yuan China. Jika China mewujudkan rencana proses  tarif pada impor Amerika Serikat bernilai sekitar US$60 miliar mulai 1 Juni, dan Amerika Serikat tidak mencabut tarif 25 persen, akan ada gangguan bagi China untuk membiarkan yuan dalam penurunan.

“Bahkan pihak yang optimistis perlu mempertimbangkan skenario risiko yuan mengingat keadaan serta risiko saat ini,” ujar Vamvakidis.

Dengan pusat saat ini tertuju pada kebuntuan Amerika Serikat dan China, permusuhan pemerintahan Presiden AS dengan Eropa dan Jepang mengenai perdagangan mobil telah ditangguhkan. Tapi, pengenaan tarif di wilayah itu juga dapat membuka pintu proteksionisme lebar-lebar.

CARA DAFTAR AKUN DEMO TRADING DI DIDIMAX

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *