Kekacauan ekonomi akibat pandemi Corona masih menjadi faktor yang mendukung Dolar Amerika Serikat. Mata uang tersebut melanjutkan reli hingga sesi perdagangan Jumat (20/Maret) pagi ini. Segala kebijakan moneter longgar dan stimulus yang dilancarkan oleh bank-bank sentral di dunia agaknya tak begitu sanggup meredakan tekanan di pasar.
Dari Amerika Serikat, Federal Reserve membuka keran bagi bank-bank sentral di sembilan negara untuk mengakses dolar guna mencegah epidemi covid-19 menyebabkan kekacauan ekonomi global.
Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) memangkas suku bunga hingga nol persen serta meluncurkan program pelonggaran kuantitatif besar-besaran senilai USD 700 miliar untuk melindungi ekonomi Amerika Serikat dari dampak Virus Corona.
Melansir laman CNBC (Consumer News and Business Channel), Senin (16/3/2020), wabah Virus Corona telah merugikan masyarakat dan mengganggu kegiatan ekonomi di banyak negara, termasuk Amerika Serikat.
Penetapan suku bunga baru, digunakan sebagai patokan untuk pinjaman jangka pendek bagi lembaga keuangan menentukan bunga ke konsumennya. Suku bunga saat ini ditargetkan mencapai 0 persen sampai 0,25 persen, lebih rendah dari kisaran target sebelumnya berkisar 1 persen sampai 1,25 persen.
Menghadapi pasar keuangan yang sangat terganggu, The Fed juga memangkas suku bunga pinjaman darurat diskon untuk bank sebesar 125 basis poin menjadi 0,25 persen dan memperpanjang jangka waktu pinjaman menjadi 90 hari.
Mengawali pekan, The Fed menurunkan suku bunga acuan 100 basis poin menjadi 0,25 persen dan melancarkan quantitative easing sebesar 700 miliar dolar AS yang diharapkan dapat membantu pelemahan ekonomi yang terjadi saat ini.
menurut Marc Chandler dari Bannockburn Global Forex, kekuatan Dolar AS berdampak pada reli short-covering yang kuat. Hal ini biasanya berguna untuk mendanai perputaran pasar modal global dalam jumlah besar. Sirkuit modal sedang mundur sekarang, dan dengan masuknya uang, maka terjadilah aksi buyback.
Pengumuman Fed Tak Redakan Kepanikan Terlepas dari aksi beli Dolar AS, The Fed mengeluarkan pengumuman di hari Kamis malam kemarin, bahwa mereka akan membangun backstop khusus Fasilitas Likuiditas Reksa Dana Pasar Uang (Money Market Mutual Fund Liquidity Facility) .
The Fed(Federal Reserve) juga mengumumkan akan memperbanyak “swap lines” dengan bank-bank sentral negara lain, untuk membantu memastikan apakah mereka memiliki cukup Dolar AS. Sayangnya, pasar masih belum tenang dengan pengumuman dari bank sentral AS tersebut. Menurut analis, bullish Dolar saat ini bukanlah hal yang menguntungkan karena ekonomi AS berpotensi resesi. Cara lain yang tersisa hanyalah intervensi fiskal.
Upaya The Fed dibandingkan dengan Pandemi COVID-19 belum mampu menenangkan kegelisahan pelaku pasar.
“AS telah menggunakan semua instrumen yang mereka miliki. Satu yang belum dilakukan adalah intervensi – (mengingat) menguatnya Dolar AS akan semakin membuat pemerintah AS mempertimbangkan intervensi,” kata Thomas Flury, analis UBS Global Wealth Management yang dikutip oleh Reuters.
sumber: seputarforex.com
Profit Konsisten Didimax







