Seiring dengan wabah covid-19 yang terus meluas, rupanya dollar juga makin kuat. Investor panik dengan terus memburu aset cash sebagai bentuk antisipasi jika covid-19 atau wabah virus corona tak kunjung usai.
Dollar Menggila
Semua mata uang Group 10 terpantau melemah. Perburuan dolar tak terbendung meski The Fed dan berbagai otoritas lain telah menyediakan likuiditas melalui swap, opsi pembelian kembali, serta pemangkasan suku bunga secara agresif.
Seiring dengan meningkatnya jumlah kematian akibat wabah virus corona atau covid-19, banyak negara – negara yang melakukan lockdown. Tentunya ini akan semakin melemahkan perdagangan dan akan mengarah pada ancaman krisis arus kas perusahaan.
Setelah Bank Sentral Eropa (ECB) mengumumkan stimulus besar-besaran sebagai upayanya menstabilkan ekonomi dan pasar Eropa, obligasi negara seperti Perancis, Italia, dan Yunani juga meroket.
Namun upaya tersebut ternyata tak mampu mendongkrak Euro yang tercatat masih mengalami pelemahan bahkan hingga 1 persen pada perdagangan Kamis (19 Maret 2020) kemarin.
Ini semua terjadi karena ada ketidaksesuaian di pasar. Permintaan terhadap dolar AS (USD) jauh lebih tinggi dibandingkan penawaran yang ada.
Kebijakan dari pemerintah dan Bank Sentral AS saat ini juga terlihat tak berdaya melawan “super streamroller” pelemahan ekstrem di pasar ekuitas, obligasi, dan kredit.
Dalam waktu dekat kemungkinan besar pasar akan mulai mendengar adanya intervensi di pasar valuta asing, atau setidaknya sebuah upaya untuk menenangkan pasar yang bergejolak saat ini.
Intervensi mata uang ini benar dilakukan, Gedung Putih akan jadi pihak yang paling senang. Para pembuat kebijakan masih bekerja sendiri-sendiri meski dengan tujuan yang serupa yakni menyediakan likuiditas dolar dan menenangkan pasar obligasi.
Presiden Philadelphia Federal reserve Bank Patrick Harker mengatakan saat ini The Fed masih berdebat apakah mereka akan kembali melakukan intervensi pasar atau tidak.
Sejauh ini, Bank Sentral AS tersebut telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak dua kali hingga ke level 0,25 persen dan menggelontorkan dana mencapai USD700 miliar untuk membeli surat utang mereka.
Ekspektasi The Fed meleset, karena nyatanya pasar tidak mendengarkan. Dolar tetap menggila dan pelemahan mata uang Asia semakin berlanjut
Pasar negara berkembang menjadi pihak yang menanggung beban paling berat dari supremasi dolar ketika di waktu yang sama mereka berusaha mengatasi kegilaan nilai tukar dan anjloknya permintaan.
Baik pemerintah dan pelaku industri kini tengah mati-matian menahan biaya yang bengkak akibat utang dengan denominasi dolar, bank sentral negara-negara berkembang juga mesti bersiap untuk pemotongan suku bunga acuan lebih lanjut.
Opsi pemangkasan kembali suku bunga acuan menjadi layaknya dua sisi mata pisau, dapat mendukung pertumbuhan tetapi juga akan semakin mengacaukan mata uang mereka ke depannya.
sumber : bisnis.com






