
Berikut berita terbaru tentang forex hari ini – China sedang mengevaluasai tindakan yang lebih drastis diakibatkan gejolaknya pertikaian dagang dengan Amerika Serikat, berdasarkan laporan surat kabar South China Morning Post yang dilansir CNBC International, Rabu (22/5/2019).
Lalu Negeri Tirai Bambu terbuka untuk melanjutkan kembali perbincangan perdagangannya, penasihat pemerintah sekarang mengawasi risiko mengambil suplai penting dari Amerika Serikat yang semakin bersikap bermusuhan. Sementara itu, Beijing juga tengah menjajaki mengevaluasai tindakan untuk mengurangi tuturannya ke Amerika Serikat, yang ditulis surat kabar itu, melansir beberapa peneliti China.
China juga sedang memikirkan untuk mengurangi pembelian gas alam dari Amerika Serikat sebagai bagian dari tindakan itu, berdasarkan surat kabar tersebut.
“Ide jika China harus membeli gas alam dalam jumlah besar dari Amerika Serikat harus dilihat kembali,” Wang Yongzhong, yang merupakan seorang rekan senior di Chinese Academy of Social Sciences.
Tindakan ini dilakukan usai langkah terbaru Presiden AS Donald Trump untuk memasukkan Huawei dalam daftar hitam dan secara efektif menghentikan kemampuannya untuk membeli suku cadang serta komponen buatan Amerika.
Dan sekarang China mengancam untuk menghentikan pendanaan industri, yang kedua negara tersebut telah lakukan kesepakatan yang cukup besar. Pada tahun 2017, China setuju untuk investasi proyek gas alam di Alaska senilai US$43 miliar (Rp 624 triliun).
“China tampaknya harus membatasi suplai Amerika Serikat sebesar 10 atau 15% dari pembelian di luar negeri demi keamanan suplai,” ujar Wang, yang mempunyai spesialisasi di bidang keamanan stok energi China.
“Bagaimana jika supkai (energi) (termasuk gas alam cair dan minyak) terputus secara tiba-tiba, seperti yang telah kita lihat dalam kasus Huawei?” ujarnya.
https://www.youtube.com/watch?v=NS0Ll5SXDM4
China membeli minyak mentah serta gas alam cair Amerika Serikat senilai US$6,3 miliar pada 2017, atau sekitar 3,6% dari pembelian produk-produk energi asing di negara itu, yang ditulis surat kabar itu dan menambahkan bahwa ketergantungan China pada produk-produk energi Amerika Serikat terbatas.
Pembatasan Negara Paman atas bisnis Huawei sudah memaksa perusahaan teknologi dan pembuat chip, termasuk Google dan Qualcomm, untuk memutuskan hubungan dengan raksasa telekomunikasi China tersebut hingga Amerika Serikat memberikan keringanan selama 90 hari demi menjaga jaringan yang ada tetap aktif. Larangan tersebut mengakibatkan aksi jual besar-besaran saham semikonduktor.
Kesepakatan perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu sudah menemui kendala usai Trump mewujudkan ancamannya meningkatkan bea impor barang-barang China senilai US$200 miliar dari 10% menjadi 25%. China merespons dengan menaikkan tarif impor barang-barang Amerika Serikat senilai US$60 miliar hingga 25% mulai 1 Juni mendatang.






