AS Siap Cabut Garansi Impor Minyak Iran, Harga Minyak Naik

AS Siap Cabut Garansi Impor Minyak Iran, Harga Minyak Naik

Berita terbaru tentang forex dan komoditas hari ini, AS Siap Cabut Garansi Impor Minyak Iran, Harga Minyak Naik. Di mulai ini, harga minyak berada di zona hijau di perdagangan Senin.

Sampai pukul 13.52 WIB, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate mengalami penguatan 2,20% atau 1,41 poin ke level US$65,48. Selain itu, harga minyak Brent menghijau 2,25% atau 1,62 poin ke level US$73,59 per barel.

Penguatan tersebut disebabkan oleh informasi bahwa Amerika Serikat akan meberitahukan bahwa semua impor minyak Iran harus diselesaikan. Jika tidak, Negeri Paman Sam siap menjatuhkan sanksi.

Laporan jika Amerika Serikat bersiap memberitahukan bahwa para importir minyak Iran saat ini tak lagi akan diberikan kelonggaran, berdasarkan laporan Josh Rogin, yang merupakan kolumnis kebijakan luar negeri serta keamanan nasional Washington Post, Minggu (21/4) waktu setempat.

“[Sekretaris Negara Mike Pompeo segera meliris, pada 2 Mei yang akan datang, Departemen Luar Negeri tidak lagi memberikan kelonggaran sanksi atas negara mana pun yang sekarang mengimpor minyak mentah atau kondensat Iran,” ujar Rogin, menlansir dari pernyataan dua sumber di Deplu, seperti dilansir dari Reuters, Senin).

Selain itu, juru bicara Deplu Amerika Serikat menolak untuk memberikan komentar yang berhubungan hal tersebut. Amerika Serikat memberikan sanksi kepada ekspor minyak Negeri Mullah tersebut, setelah Presiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 antara Iran serta enam kekuatan dunia.

Washington  telah menjamin delapan pembeli minyak Iran untuk mendapatkan komoditas itu secara terbatas. Kedelapan negara tersebut ialah China, India, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Turki, Italia, dan Yunani.

Di tanggal 17 April, Frank Fannon, Asisten Sekretaris Negara untuk Sumber Daya Enegeri, melaporkan jika tujuan sanksi Amerika Serikat kepada Iran ialah membatasi ekspor negara tersebut sampai mencapai nol.

Sejumlah ahli analis mengomentari pencabutan kelonggaran sanksi trsebut, yang akan menekan para pembeli dari Asia.  Takayuki Nogami, Kepala Ekonom  di Japan Oil, Gas and Metals National Corporation (JOGMEC) mengungkapkan pencabutan sanksi keringanan itu bukan kebijakan yang baik untuk Pemerintahan Trump.

“Kegelisahan terhadap pengetatan pasokan minyak global dan melemahnya kapasitas produksi yang lebih rendah diprediksi menyangga harga minyak untuk lebih tinggi,” ujarnya.

Dia melanjutkan, harga Brent tampaknya akan tumbuh menuju level US$86,29 per barel, level tertinggi sejak 2018. Selain itu, harga WTI diprediksi naik ke level US$76,41 per barel.

Penghapusan kelonggaran sanksi itu juga dinilai akan menambah beban pada pasokan minyak global, yang sudah menurun dikarenakan sanksi Amerika Serikat kepada Iran dan Venezuela.

Pieter Kiernan, ahli analis Energi di Economist Intelligence Unit mengungkapkan, kerugian besar dalam jumlah minyak Iran akan memberi tekanan pada sisi suplaiminyak dunia. “Mengingat ketidakjelasan politik yang saat ini juga merusak eksportir minyak lainnya yaitu Venezuela dan Libya,” ujarnya.

Konsumen minyak terbesar Iran, China dan India, dilaporkan telah melobi perpanjangan keringanan tersebut. Korea Selatan adalah pembeli utama kondensat dari Iran. Negara itu sangat bergantung pada minyak mentah ultra ringan tersebut untuk keperluan pengilangan serta petrokimia.

Di bulan Maret, Iran adalah produsen terbesar keempat di antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries) dengan produksi mencapai 2,75 juta barel per hari. Walaupun demikian, ekspor telah menurun menjadi sekitar 1 juta bph sejak sanksi diberlakukan pada November.

CARA DAFTAR AKUN DEMO TRADING DI DIDIMAX

(Visited 10 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *