USD Menjadi Penggerak Utama Harga Emas Saat Ini

USD Menjadi Penggerak Utama Harga Emas Saat Ini

Pergerakan harga emas sejak mencapai level tertingginya sepanjang masa cenderung volatil seperti roller coaster. Pergerakan USD masih menjadi pemicu utama volatilitas emas.

Jumat (4/9/2020), harga emas dunia di pasar spot menguat 0,3% ke US$ 1.937,1/troy ons pada 08.05 WIB.

Harga emas dan indeks dolar memiliki korelasi yang terbalik. Artinya, ketika dolar AS menguat, maka harga emas akan cenderung tertekan. Begitu juga sebaliknya. Maklum emas merupakan salah satu komoditas yang dibanderol dalam mata uang dolar AS.

Harga emas yang sudah tergolong tinggi menjadi semakin mahal ketika dolar AS menguat, terutama bagi pemegang mata uang lainnya. Hal ini bisa terlihat ketika indeks dolar ambrol ke level terendah dalam dua tahun, harga emas cenderung reli tak terbendung.

Meski klaim pengangguran mingguan AS turun di bawah 1 juta minggu lalu untuk kedua kalinya sejak pandemi dimulai, tetapi hal ini tidak menandakan pemulihan yang kuat di pasar tenaga kerja mengingat penurunan tersebut sebagian besar mencerminkan perubahan dalam metodologi yang digunakan untuk mengatasi fluktuasi musiman pada data.

Namun data manufaktur awal pekan ini meningkatkan optimisme tentang pemulihan ekonomi. Pesanan baru untuk barang-barang buatan AS meningkat lebih dari yang diharapkan pada bulan Juli, sementara data manufaktur AS menunjukkan aktivitas yang ekspansif mendekati level tertinggi dua tahun pada bulan Agustus.

Mengacu pada data ISM, angka PMI manufaktur bulan lalu berada di 56 juga lebih baik dari posisi Juli di angka 54,2.

Selain itu, ADP mengumumkan bahwa slip gaji pekerja swasta di AS bertambah 428.000 pada Agustus. Angka ini masih jauh di bawah ekspektasi ekonom dalam polling Dow Jones sebelumnya yang berujung pada estimasi sebesar 1,17 juta.

Perbaikan memang ada, tetapi pejabat Federal Reserve mengatakan dukungan lebih lanjut untuk perekonomian masih diperlukan. Gubernur Fed Lael Brainard pada hari Selasa mengatakan bank sentral AS perlu melakukan upaya baru untuk membantu ekonomi mengatasi dampak pandemi dalam beberapa bulan mendatang.

“Tindakan gubernur Fed untuk memberikan lebih banyak stimulus memperkuat fakta bahwa ekonomi masih dalam krisis dan sedikit penurunan [harga] aset safe-haven seperti emas yang terjadi hanyalah konsolidasi,” kata Meger.

Kendati emas telah naik 27% tahun ini karena pandemi virus corona menghantam ekonomi global, fundamental emas masih kokoh. Prospek ke depan logam kuning ini dinilai masih cerah.

“Fundamental (masih) terlihat cukup kuat untuk bullion dengan ancaman virus yang masih ada, tingkat suku bunga yang sangat rendah dan ruang untuk lebih banyak stimulus guna mendongkrak perekonomian,” kata Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA, mengutip Reuters.

Volatilitas emas yang tinggi akhir-akhir ini tidak mencerminkan bahwa harga emas berada dalam tren turun dan seharusnya dimanfaatkan untuk mengambil aksi beli. Hal ini diungkapkan oleh Frank Holmes, CEO dari U.S. Global Investor.

“Volatilitas emas menjadi peluang untuk buy on dip. Anda salah jika tak membeli emas,” kata Holmes saat diwawancara oleh Kitco, Selasa (2/9/2020). Holmes memprediksi harga emas akan mencapai US$ 4.000/troy ons dalam waktu 2 sampai 3 tahun ke depan.

Sumber: https://www.cnbcindonesia.com/market/20200904080608-17-184312/combat-of-giants-emas-tak-berkutik-dihajar-dolar-as

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *